freightsight
Minggu, 4 Desember 2022

REGULASI

Lonjakan Ongkos Logistik Diklaim Tak Tambah Keuntungan Pengusaha

20 Juli 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

Ongkos Logistik

Ilustrasi Logistik via ipotnews.com

Pengusaha saat ini tidak mengambil keuntungan. Ini hanya penyesuaian agar barang segera sampai ke konsumen. Daripada lama-lama di pelabuhan.

Dewan Perwakilan Wilayah Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia Kalimantan Timur (DPW ALFI Kaltim) sebelumnya mengeluarkan Surat Edaran tentang Acuan Penyesuaian Tarif Angkutan Kontainer di Samarinda tertanggal 5 April 2022.

Pada surat edaran tersebut, DPW ALFI Kaltim telah menaikkan tarif angkutan kontainer di Samarinda sebesar 40 persen dari harga berjalan.

Semua pengusaha jasa pengusahaan transportasi (JPT) yang menjadi anggota ALFI dan aktif beroperasi di Pelabuhan Peti Kemas Palaran diwajibkan mengikuti surat edaran tersebut.

Berdasarkan informasi awal, alasan dinaikkannya tarif angkutan kontainer adalah bentuk kompensasi akibat peralihan penggunaan BBM biosolar (subsidi) ke BBM Dexlite (nonsubsidi).

Peralihan penggunaan BBM tersebut dikarenakan sulitnya mendapatkan BBM solar bersubsidi, armada pengangkutan perusahaan JPT harus menunggu tiga sampai empat hari mengantre di SPBU. Sehingga, berpotensi barang-barang pelanggan akan terlambat diterima.

Padahal terdapat sekitar 70 persen muatan kontainer di Pelabuhan Palaran adalah muatan berupa consumer goods atau barang konsumsi harian, seperti gula, sembako, dan lain-lain.

Muatan consumer goods tersebut diharapkan sebisa mungkin sampai ke tangan logistik owner atau distributor untuk didistribusikan ke masyarakat.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim Dayang Donna Faroek mengatakan, kesulitan solar subsidi membuat ALFI tidak ada pilihan untuk beralih ke Dexlite yang lebih mahal.

Tarif yang ALFI kenakan pun hanya surcharge selisih biaya solar subsidi ke Dexlite tanpa menambah keuntungan.

“Saya rasa pengusaha saat ini tidak mengambil keuntungan. Ini hanya penyesuaian agar barang segera sampai ke konsumen. Daripada lama-lama di pelabuhan,” jelasnya pada Rabu (13/7/2022).

Menurutnya, pelaku usaha terpaksa melakukan ini demi menjaga kelancaran arus distribusi barang ke konsumen. Pilihan yang sangat sulit yang saya lihat dari kebijakan ini. Sebab, solar subsidi harganya hanya Rp 5.500 sedangkan Dexlite Rp 15 ribu. Ada selisih yang tidak bisa ditanggung oleh pelaku usaha.

Menurutnya, pelaku usaha terpaksa melakukan ini demi menjaga kelancaran arus distribusi barang ke konsumen. Pilihan yang sangat sulit yang saya lihat dari kebijakan ini. Sebab, solar subsidi harganya hanya Rp 5.500 sedangkan Dexlite Rp 15 ribu. Ada selisih yang tidak bisa ditanggung oleh pelaku usaha.

Sebenarnya, dari sisi logistik tidak ada kenaikan harga. Semua masih sama seperti biasanya, hanya kesulitan mendapat solar subsidi membuat hambatan dan keterlambatan dalam pengiriman.

Jika pemilik barang ingin cepat diantar, maka memakai Dexlite (solar nonsubsidi). Sehingga, biaya selisihnya dibayar oleh pemilik barang.

Menurutnya, yang harus diperhatikan adalah kelancaran solar subsidi, agar tidak terjadi antrean. Jika distribusi solar lancar, pelaku usaha pasti menurunkan harga angkutan kontainernya.

“Saat ini, murni untuk menjaga kelancaran arus distribusi barang ke konsumen, pelaku usaha tidak menambah keuntungan,” pungkasnya.