freightsight
Minggu, 4 Desember 2022

PENGIRIMAN DARAT

Aptrindo Sebut Tarif Tol Cibitung-Cilincing Belum Efektif Perlancar Arus Logistik Pelabuhan Priok

15 November 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

via kompas.com

Aptrindo sebut tarif terlalu mahal membuat pengusaha truk enggan menggunakan ruas jalan Tol Cibitung-Cilincing.

Tarif yang kemahalan jadi penyebab minat operator truk pengangkut barang dan peti kemas dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok enggan memanfaatkan ruas jalan tol Cibitung-Cilincing (JTCC).

Padahal, jika azas perhitungan tarif tol tersebut mau mendengarkan masukan dari para pengusaha trucking, ruas tol ini cukup efektif menekan tingkat kemacetan lalu lintas barang dan logistik dari dan ke pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.
Ini sebagaimana dikemukakan oleh Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan pada Minggu (13/11/2022).

“Padahal kalau tarifnya lebih terjangkau, seharusnya sekarang truk pengangkut logistik yang dari Marunda ke Cibitung bisa memanfaatkan akses tol itu, begitupun sebaliknya. Terutama jika sudah tersambung dengan Jakarta Outer Ring Road (JORR) bisa langsung masuk ke pelabuhan Priok (JICT dan TPK Koja). Namun sayangnya hingga saat ini trucking yang memanfaatkan akses tol tersebut sangat minim lantaran jika pulang pergi mesti merogoh budget hampir Rp 300.000 untuk biaya tol saja, sementara tarif angkut rute Cibitung-Priok saat ini hanya berkisar Rp 1,5-2 jutaan saja,” papar Gemilang.

Situasi ini dibandingkan dengan akses tol lama (eksisting), menurut Gemilang, tarif ruas JTCC itu terlalu mahal.

“Soalnya jika truk menggunakan akses tol yang eksisting bayarnya hanya sekitar Rp 35.000 lalu ditambah Rp 18.000 atau ditoal Rp 53.000 saja, sudah langsung nyambung JORR dan sudah bisa masuk pelabuhan meskipun harus melewati macet. Jadi bagi trucking lebih baik menghadapi urusan macet karena sudah biasa, yang penting tarif tol nya murah,” terangnya.

Oleh sebab itu, Aptrindo mengingkatkan kepada operator Tol Cibitung-Cilincing agar lebih peka dan mau berdialog dengan pengusaha truk agar infrastruktur tol yang telah disiapkan itu dapat dimanfaatkan.

“Kalau strategic pricing-nya terus begini gak bakal ok. Sama kayak tol Becakayu karena tarifnya lebih mahal dua kali lipat dari tol eksisting. Harusnya ada strategi jitu dan ngobrol bareng-bareng. Jika begini terus semua akan rugi. Trucking rugi waktu dan pengelola tol juga tidak dapat duit optimal. Untuk itu, perlu penetapan pricing tol jadi target harusnya berdasarkan revenue berdasarkan potensi volume kendaraan yang menggunakannya, bukan langsung serta merta dipatok tarif tinggi. Makanya sampai sekarang pun, masih jarang truk masuk tol itu karena pengusaha gak mau alias kemahalan. Yang jadi pertanyaan sekarang, sejauh mana efektivitas fungsi tol itu dalam memperlancar arus barang dan logistik dari dan ke pelabuhan Priok,” kata Gemilang yang juga menjabat sebagai Chairman Asean Trucking Federation (ATF) itu.

Seperti diketahui, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo melalui PT Akses Pelabuhan Indonesia (API) sedang melakukan percepatan untuk mengejar penyelesaian Seksi 4 jalan Tol Cibitung-Cilincing (JTCC) sepanjang 7,29 kilometer.
Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Arif Suhartono mengatakan, pihaknya sudah mengejar target agar beban jalan Tol Cikampek-Jakarta pada ruas Cibitung-Cilincing dapat berkurang banyak pada Desember mendatang.

Dirut Arif menjelaskan, jika sudah rampung total, ruas jalan Tol Cibitung-Cilincing sejauh 34,77 ini akan menjadi tumpuan utama arus barang dari kawasan timur Jakarta.

Di wilayah tersebut terdapat banyak kawasan industri berskala besar, seperti Kawasan Industri Jababeka, MM2100 Industrial Town BFIE, dan Greenland International Industrial Center (GIIC). Bahkan, lebih dari 60 persen barang ekspor melalui Tanjung Priok datang dari hinterland di timur Jakarta.