freightsight
Sabtu, 4 Februari 2023

PENGIRIMAN DARAT

ALFI Katakan Akibat Solar Naik Kenaikan Biaya Logistik Tak dapat Dihindari

7 September 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

Ilustrasi BBM Logistik via medcom.id

Pelaku usaha logistik menyatakan kenaikan biaya logistik nasional tidak dapat dihindari karena efek domino BBM.

Efek domino BBM subsidi naik mengerek harga barang konsumsi apalagi inflasi menjadi perhatian khusus pemerintah untuk tetap ditekan.

Pelaku usaha logistik menyatakan kenaikan biaya logistik nasional tidak dapat dihindari karena efek domino bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar mengalami kenaikan.

Pasalnya, mayoritas pelaku logistik nasional termasuk operator truk pengangkut barang juga logistik selama ini menggunakan BBM bersubsidi karena tuntutan pasar/konsumen tinggi atas biaya logistik rendah.

"Kami memahami adanya potensi kenaikan cost logistik terutama yang berhubungan dengan aktivitas truk barang dan logistik akibat kenaikan BBM solar bersubsidi tersebut. Namun berapa persen besaran idealnya kenaikan tarif angkutan barang itu mesti dinegosiasikan secara bersama," ujar Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi dalam keterangan resmi, Minggu (4/9/2022).

Beliau menjelaskan, efek langsung pada komponen BBM dalam formula hitungan biaya angkutan darat (trucking) merepresentasi 35-40%.

"Sehingga berapa pun koefisien kenaikan BBM akan berdampak besar," ucap Yukki.

Sedangkan efek tidak langsungnya, imbuhnya yang berkaitan dengan biaya lain seperti harga maintenance dan spare part akan terdongkrak naik akibat tidak langsung dari ongkos produksi juga pengiriman spare part kepada pengusaha/pemilik truk.

Yukki mengungkapkan bahwa imbas kenaikan harga BBM bersubsidi berpotensi menekan kinerja logistik nasional.

"Kinerja logistik akan alami tekanan sangat besar, karena saya sampaikan tadi komponen BBM dalam angkutan darat cukup tinggi. Apalagi, distribusi barang dengan moda transportasi darat secara nasional masih didominasi angkutan darat," ujarnya.

Di sisi lain, Yukki mengatakan belum lagi respons pasar pengguna angkutan yang pada dasarnya free market, seakan tidak peduli dan membebankan pergeseran harga karena kenaikan harga BBM kepada pelaku penyedia jasa angkutan.

"Hal ini karena mereka menganggap dasar kenaikan hanya harga BBM sebagai akibat langsung tersebut," tuturnya.

Menurut Yukki, kondisi industri logistik di tengah momentum pemulihan ekonomi cukup baik, volume berangsur naik serta mobilitas semakin longgar.

Hanya saja, imbuhnya, industri logistik memerlukan dukungan pemerintah untuk memastikan agenda pemerintah terealisasi.

ALFI menilai perlu kepastian terkait ketersediaan supply BBM tanpa henti secara nasional. Fenomena antrean pengisian BBM di SPBU yang kita lihat akhir-akhir ini masif dan memprihatinkan juga sudah berdampak kepada kinerja logistik, karena produktivitas barang modal (truck) tidak optimal.

"Supply chain itu bicara reliability and sustainability yang predictable sesuai forecast, pun demikian dalam hal BBM dari supply dan demand," paparnya.

Persoalan ketidakseimbangan supply and demand pada BBM solar bersubsidi angkutan barang dan logistik menjadi masalah serius sampai ke daerah-daerah.

Bahkan, Yukki mengatakan di daerah-daerah mengalami persoalan itu ALFI menginisiasikan mengambil peran dan berinovasi membantu PT Pertamina (Persero) demi mengurai masalah ini.

ALFI mendorong terwujudnya ekosistem logistik sebagai solusi jangka panjang mengatasi persoalan logistik sebagai bagian dari supply chain.

Komitmen dalam efisiensi layanan logistik menjadi tolok ukur efektifnya kinerja logistik juga dukungan industri yang lain.

"Jadi bisnis kami sangat bergantung juga terhadap industri lain yang menggunakan jasa kami. Efisiensi di sisi produsen sebagai konsumen kami berarti efisiensi di dalam bisnis kami. Sehingga perlu multisektor dan kelembagaan ini memastikan bisnis logistik berkelanjutan," jelas Yukki.

Yukki mengatakan, efek domino BBM subsidi naik akan mengerek harga barang konsumsi dan ini yang terberat, apalagi inflasi menjadi perhatian khusus pemerintah untuk tetap ditekan. Belum lagi kalau merembet pada sentimen negatif luar negeri, seperti kurs.

"Namun ALFI masih tetap meyakini proyeksi pertumbuhan bisnis logistik 2022 dan 2023 tetap tumbuh positif, karena masih didukung kekuatan konsumsi domestik," ucap Yukki.