freightsight
Minggu, 27 November 2022

INFO INDUSTRI

Terbatasnya Ruang Gerak Pelaut Ukraina-Rusia Berpotensi Rantai Pasokan Terganggu

26 Februari 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

Perang Ukraina-Russia

Armada Laut via garudamiliter.com

• ICS mewakili 80% pelayaran global memperingatkan gangguan rantai pasokan jika Ukraina – Russia perang.

• ICS mengakui hal ini sulit diterapkan di kedua negara sedang konflik, kemungkinan ada pembatasan penerbangan sipil.

International Chamber of Shipping (ICS) atau lembaga mewakili sekitar 80% dari total pelayaran global, memperingatkan potensi gangguan rantai pasokan global jika perang Ukraina – Russia berdampak pada pembatasan ruang gerak pelaut dari kedua negara.

Ini karena jumlah pelaut dari kedua negara ini sangat banyak. Berdasarkan data ICS juga BIMCO 2021 dari keseluruhan sekitar 1,89 juta pelaut global bekerja pada hampir 74.000 kapal, sekitar 14,5 persen adalah warga negara Rusia dan Ukraina.

Tercatat sebanyak 198,123 (10,5 persen) pelaut merupakan warga negara Rusia, termasuk juga 71.652 perwira dan 126.471 crew dengan level lebih rendah. Data ICS ini juga mencatat ada sekitar 76.442 (4 persen) pelaut adalah warga negara Ukraina, termasuk 47.058 perwira dan 29.383 crew dengan level lebih rendah.

90 persen dari perdagangan dunia menggunakan moda transportasi laut, sehingga jika konflik kedua negara akan berdampak pada ruang gerak pelaut dari kedua negara tersebut yang sangat mengganggu perdagangan global juga rantai pasok.
91.
Jadi, untuk menjaga aktivitas perdagangan berjalan normal, ICS berharap supaya apapun yang terjadi selama konflik kedua negara tersebut ruang gerak pelaut tetap dijamin. Pelaut harus bebas naik turun kapal di manapun.

Namun ICS mengakui hal ini sulit diterapkan di kedua negara apa lagi sedang konflik karena kemungkinan adanya pembatasan penerbangan sipil selama terjadinya perang juga permasalahan pembayaran pelaut jika sistem perbankan internasional untuk kedua negara tersebut dibatasi.

ICS sebelumnya juga memperingatkan akan ada kekurangan pelaut pada pelayaran komersial global. Jika tidak ada tindakan konkrit menambah jumlah pelaut tentu akan berpotensi menghambat kelancaran operasional pelayaran pada akhirnya mengganggu perdagangan global.

Selama pandemi, pertukaran awak kapal sulit dilakukan. Sekitar 100.000 crew kapal terpaksa overstay di laut karena tidak bisa melakukan pertukaran. Ini semakin parah jika ruang gerak pelaut Ukraina-Rusia dibatasi selama konflik kedua negara tersebut.

Berdasarkan penelitian ICS, setiap kapal memiliki crew dari rata-rata tiga negara asal, sehingga rata-rata crew bisa tiga bahasa di satu kapal.

“Keselamatan pelaut itu prioritas mutlak kami dan kami menyerukan kepada semua pihak memastikan pelaut tidak menjadi korban tindakan yang diambil pemerintah atau pihak lainnya,” ungkap Guy Platten selaku Secretary General SCI.
“Pelaut berada di garis terdepan untuk aktivitas perdagangan berjalan walaupun pandemi. Kami harap semua pihak memfasilitasi pengiriman barang juga menjamin para pelaut bisa leluasa bergerak,” tambahnya.

Semakin meruncingnya konflik Ukraina-Rusia, laporan awal menunjukkan akses keluar masuk Laut Asov rupanya telah diblokade. Berdasarkan data Lloyd’s List Intelligence bahwa 116 antri di Selat Kerch serta 52 kapal lainnya di bagian selatan Selat tersebut.