freightsight
Senin, 23 Mei 2022

OPINI AHLI

RI Catat Pertumbuhan Ekspor Perikanan Global Hingga 5,7%

26 April 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

Ekspor Perikanan Global

Ekspor Perikanan via tehrantimes.com

Indonesia mampu tumbuh positif 5,7%, dan naik ke peringkat 8 negara eksportir produk perikanan global tahun 2020.

Direktur Logistik Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Berny A. Subki menyebutkan Indonesia mencatat pertumbuhan ekspor perikanan hingga 5,7% di tengah perlambatan ekonomi global akibat pandemi Covid-19.

Hal ini dipaparkan dalam sebuah web seminar dengan tajuk "Overview Ekspor Perikanan Indonesia" yang disiarkan pada Rabu, 23 Maret 2022.

Berdasarkan data ITC Trademap yang diolah oleh Ditjen PDS-KKP tahun 2021, terjadi pelemahan ekonomi global produk perikanan pada tahun 2020 akibat pandemi covid-19. Total nilai produk ekspor perikanan turun 7% dibanding 2019.

Eksportir utama mengalami penurunan ekspor cukup signifikan. Seperti China turun 7,8%, Norwegia 7,5%, Vietnam turun 2,1%, India turun 15,1%, Thailand 2,2%, Ekuador 1,5%.

Sedangkan Indonesia mampu tumbuh positif 5,7%, dan naik ke peringkat 8 negara eksportir produk perikanan global tahun 2020.

"Perlambatan global ini berdampak pada hal-hal yang terkait dukungan ekspor, misalnya kapal angkut, river container, masalah logistik, juga termasuk demand pasar" kata Bernie.

Pada tahun 2021, nilai produk ekspor perikanan juga mencapai US$ 5,72 miliar atau meningkat sebesar 9,82% dari tahun sebelumnya.

Angka ini akan terus didorong mencapai target 2024 sesuai program prioritas KKP yang akan dilaksanakan hingga beberapa tahun ke depan.

Sementara itu, pangsa ekspor perikanan Indonesia berdasarkan data ekspor BPS pada 2016-2020, ekspor paling banyak dikirim ke Amerika Serikat (AS) dari komoditas udang dengan nilai ekspor US$ 2,53 miliar atau meningkat 20,81% dari tahun sebelumnya sebesar US$ 2,1 miliar.

Selanjutnya disusul Tiongkok dengan nilai ekspor sebesar US$ 0,89 miliar atau meningkat 8,90%. Jepang sebesar US$ 0,62 miliar atau meningkat 1,98%. ASEAN sebesar US$ 0,53 miliar atau turun 12,56%.

Terakhir, Uni Eropa (27 negara) sebesar US$ 0,33 miliar atau meningkat 13,5% dibanding tahun sebelumnya.

Sebagai regulator, KKP mengajak semua pihak yang terlibat dalam industri untuk mendorong potensi kemaritiman Indonesia menjadi produksi.

"Kami dalam sisi regulator kalaupun mengeluarkan APBN hanya bersifat stimulus, jadi tidak bisa menyelesaikan semua permasalahan" ujarnya.

Selain itu, menurut pada BPS pada Desember 2021, komoditas ekspor utama produk perikanan Indonesia adalah udang dengan nilai ekspor sebesar US$ 2,23 miliar atau meningkat 9,25% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai US$ 2,04 miliar.

Selanjutnya komoditas Tuna-Cakalang-Tongkol dengan nilai ekspor sebesar US$ 0,73 miliar atau meningkat 1,24%. Kemudian Cumi-Sotong-Gurita sebesar US$ 0,62 miliar atau meningkat 21,54%, Rajungan-Kepiting sebesar US$ 0,61 miliar atau meningkat 66,31%, dan rumput laut sebesar US$ 0,35 miliar atau meningkat 23,44% dibanding tahun sebelumnya.

"Grafik komoditas tersebut cukup positif. Jadi kita dorong terus ekologi tersebut jadi panglima dalam pembangunan ekonomi sektor kelautan dan perikanan," tutur Berny.