freightsight
Jumat, 3 Februari 2023

OPINI AHLI

Peran Transformasi Digital Transportasi dan Logistik dalam Perbaikan Ekonomi Indonesia

8 Desember 2022

|

Penulis :

Dewi Meisari

via pexels

Salah satu isu dalam perekonomian Indonesia yang menjadi topik perbincangan global adalah arena ekonomi yang high cost atau memiliki biaya yang tinggi. Hal ini disebabkan karena belum efisiennya sektor logistik di Indonesia.

Isu tentang biaya logistik sudah meluncur sejak tahun 2007-2008 karena logistik menjadi salah satu sumber untuk membangun national competitiveness (daya saing nasional) suatu negara. Terkait hal itu, ada beberapa aspek yang menyebabkan biaya logistik di Indonesia masih tinggi, antara lain:

1. Regulasi yang masih belum stabil
Logistik itu adalah kegiatan yang penuh dengan kepastian hingga membutuhkan assurance, maka diperlukan berbagai hal untuk memastikan bahwa kegiatan logistik berjalan dengan baik. Salah satu sumber kepastian itu adalah regulasi, dimana ketika terjadi overlapping atau dalam pengaturannya tidak diiringi dengan law enforcement (penegakan hukum) akan berdampak kepada ketidakstabilan servis maupun pricing atau harga. Hal ini kemudian menjadi rentan untuk berubah dan disalahgunakan oleh pihak tertentu yang mengambil keuntungan di bidang itu.

2. Infrastruktur
Sebenarnya banyak sekali infrastruktur fisik maupun virtual di Indonesia yang mencakup transportasi laut, kereta api, angkutan darat, dan udara. Transportasi laut biayanya paling murah, disusul dengan kereta api yang sedikit lebih mahal. Selanjutnya, ada transportasi darat dan udara yang masuk dalam kategori transportasi dengan biaya mahal. Apabila pengembangan logistik hanya berdasarkan pada dua hal terakhir, tanpa sadar sudah terbangun biaya logistik yang tinggi atau sedang menciptakan situasi dengan biaya yang mahal atau tinggi.

3. Bisnis logistik lokal belum memiliki value added service yang tinggi
Sejak tahun 2007-2008 para pemain domestik masih tergolong dalam taraf servis transaksional, sehingga multinational company selalu menjadi lebih unggul di bidang logistik. Pebisnis logistik dirasa tidak memiliki komparasi baik, yang artinya harus mendapatkan dorongan atau dukungan yang lebih besar supaya dapat naik kelas.

Contoh value added service adalah apabila sebuah perusahaan logistik menyediakan servis ekstra untuk pelanggan, seperti servis pengepakan kemasan, menyediakan tempat penyimpanan sementara, dan tracking yang aman. Dengan begitu, konsumen hanya perlu membawa barangnya saja karena berbagai jasa tersedia di perusahaan logistik itu. Kalau sudah nyaman, konsumen rela bayar jasa kita walaupun sedikit lebih mahal.

4. Implementasi teknologi
Saat ini pemerintah sudah meluncurkan ekosistem logistik nasional, contohnya kerjasama yang dilakukan Asosiasi Logistik Forwarder Indonesia Jawa Barat bersama perusahaan Andalin untuk mewujudkan ALFI Logistik Ekosistem. Upaya ini merupakan daya dorong teknologi kepada pelaksanaan proses bisnis logistik.

Implementasi ini memiliki catatan sendiri, yaitu masih bergantung dari efisiensi proses dari logistik itu sendiri. Selama barang harus dikelola dan dikirim secara fisik, teknologi harus bisa memastikan bahwa kontrol terhadap proses operasi itu berjalan dengan baik, tidak bisa sendiri-sendiri. Dengan kata lain, teknologi harus bisa mendukung kegiatan secara efisien.

5. Sumber daya manusia
Sejak tahun 2008 sumber daya manusia di negara kita tidak memiliki bekal yang cukup terkait kompetensi yang baik. Kompetensi tersebut mencakup 3 hal, yaitu:
a. Knowledge
Knowledge adalah pengetahuan kita tentang proses logistik. Faktanya, mengurus logistik tidak semudah itu. Kampus di Indonesia belum banyak yang memiliki program studi di bidang logistik. Program studi yang berhubungan dengan logistik baru bertumbuh sejak tahun 2013. Saat ini sudah ada percepatan perbaikan walaupun belum bisa dikatakan dapat menekan biaya logistik. Seperti pada 2008-2010 biaya logistik di Indonesia dinilai sekitar 27% dari GDP, dimana hari ini sudah turun sebesar 24%, dengan ekspektasi di tahun depan dapat mengalami penurunan di 17%.
b. Skill
Umumnya skill diperoleh dari jam terbang dan pengalaman serta sertifikasi yang merupakan sebuah hal yang diterima oleh industri secara umum. Sudah banyak lembaga kursus atau short course yang mengadakan sertifikasi di bidang logistik dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).
c. Attitude
Setelah memiliki knowledge dan skill yang mumpuni, attitude mengambil peran yang menyempurnakan keduanya karena logistik adalah sebuah bisnis harus dikelola secara amanah.

Membangun sektor logistik di Indonesia sangatlah penting. Proses itu bisa dimulai melalui ketiga hal berikut, yaitu:

1. Sumber daya manusia yang berkualitas
Dunia logistik sangat bergantung pada sumber daya manusia dimana jika di dalamnya ada seseorang yang memiliki knowledge dan skill yang baik, maka akan memacu percepatan pertumbuhan sebuah perusahaan. Selain itu, SDM yang berkualitas juga harus memiliki attitude yang baik.

2. People management
Seorang pemimpin perusahaan perlu menghindari terlalu memiliki ekspektasi berlebih bahwa semua karyawan memiliki kemampuan setara. Sadari bahwa setiap karyawan memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda sehingga kewajiban pemimpin adalah membuat karyawan mengerahkan kemampuan terbaik sesuai tanggung jawab mereka.

Berikan pelatihan sesering mungkin karena hal tersebut adalah bagian dari proses panjang dalam mengedukasi karyawan. Ketika terjadi slow down ekonomi, perusahaan multinasional akan mengirimkan orang mengikuti pelatihan agar bisa berinovasi. Berbeda dengan kebanyakan perusahaan domestik, jika terjadi hal yang sama justru melakukan pemangkasan biaya pelatihan.

3. Pemahaman komprehensif
Perusahaan yang bergerak di sektor logistik, perlu memiliki pemahaman terhadap lima hal berikut, yaitu:

  • Teknologi
  • Partnership
  • Jejaring
  • Efisiensi
  • Improvisasi

Selain itu, tantangan yang masih terasa besar di Indonesia terletak pada penguasaan teknologi. Menerapkan teknologi pada sektor logistik merupakan hal yang berat karena akan berdampak pada operasional perusahaan untuk membangun value added. Saat ini sudah memasuki era teknologi 4.0 dimana sektor logistik bisa memanfaatkan teknologi artificial intelligence, machine learning, dan sebagainya untuk proses operasional logistik.

Faktanya, terjadi shortage (kekurangan) sebanyak 22% tenaga kerja di sektor logistik, padahal menurut data statistik terdapat 9 juta angka pengangguran. Oleh sebab itu, meluruskan pemahaman tentang logistik perlu dimulai dari dunia pendidikan, seperti pemahaman tentang konsentrasi logistik ke laut, pelabuhan, dan jasa kurir melalui penyesuaian modul dan pengajaran yang terstruktur. Sumber daya manusia adalah kunci yang sangat penting untuk membangun sektor logistik sehingga aspek ini perlu diperbaiki secara sistematis dan konsisten.

Sektor logistik merupakan aspek penting dalam membangun daya saing negara. Walaupun belum mencapai kondisi ideal, pembangunan sektor logistik di Indonesia akan terus berlanjut. Pembangunan sumber daya manusia, penguasaan teknologi, pembangunan infrastruktur, serta penerapan regulasi yang disertai law enforcement merupakan kunci penting untuk membangun sektor logistik secara dasar dan menyeluruh. Dengan demikian, masalah high cost sektor logistik teratasi sehingga mendorong terciptanya iklim ekonomi domestik yang lebih kondusif bagi semua pihak.