freightsight
Rabu, 28 September 2022

PENGIRIMAN UDARA

Pengusaha Mebel Tanggapi Usul Menteri Perdagangan : Tidak Semua Produk Bisa Gunakan Kargo Udara

2 November 2021

|

Penulis :

Editor Freightsight

Brown Cardboard Boxes © Chuttersnap via Unsplash

Menteri Perdagangan memberikan usul pemanfaatan kargo udara sebagai alternatif bagi para pelaku usaha, di tengah tingginya biaya pengapalan yang tinggi. Menyoal hal tersebut, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) memberikan respon positif, mereka menjelaskan bahwa pada nyatanya memang tidak semua produk mebel bisa menggunakan kargo udara.

Ketua Presidium HIMKI, Abdul Sobur, mengaku bahwa kargo udara memang memiliki keunggulan dalam hal kecepatan. Akan tetapi, alternatif ini juga memiliki keterbatasan ukuran ruang. Sedangkan di sisi lain, ekspor mebel Indonesia saat ini kebanyakan produknya adalah barang dengan ukuran besar yang dikirim dengan bentuk bulk.

"Ŕata-rata pengiriman dari Jawa Timur, bisa mencapai 4.000 kontainer per bulan. Sedangkan 1 pesawat hanya mampu memuat 1 atau 2 kontainer dalam 1 kali penerbangan," jelas Abdul, Minggu (3/10/2021).

Akan tetapi Abdul tetap melihat bahwa ide kargo udara memang merupakan usulan bagus, karena ia yakin hal ini bisa me jadi alternatif untuk pelaku usaha yang memiliki produk-produk dengan ukuran lebih kecil. Salah satu contohnya adalah untuk pelaku usaha mebel dengan produk bongkar pasang, ataupun untuk paku usaha bidang makanan dan minuman.

"Ini ide yang logis, terutama untuk produk-produk berukuran lebih kecil, seperti mebel yang knockdown, atau makanan dan minuman," lanjutnya.

Sejak akhir 2020 lalu, kenaikan biaya pengapalan memang sangat terasa untuk pelaku usaha. Apalagi, untuk ekspor ke lintas benua seperti ke Eropa dan Amerika. Menurut data HIMKI, sat ini, biaya pengapalan yang harus dikeluarkan oleh pelaku usaha yang ingin melakukan ekspor ke Amerika dengan ukuran 10 kaki adalah sebesar US$ 21.500, biaya tersebut mulai berlaku per Agustus 2021. Dengan data tersebut, diketahui bahwa kenaikan biaya adalah sebesar 837% apabila dibandingkan dengan agustus tahun lalu, yang hanya sebesar US$ 4.000 saja, per kontainer.

"Untuk rute China, negara Asia lain dan Asia Tenggara tidak terlalu signifikan (kenaikan biayanya) karena perdagangan dua arah masih terjadi. Sedangkan pengapalan lintas benua naik sampai 900%," pungkasnya.