freightsight
Minggu, 4 Desember 2022

PELABUHAN

Pemprov Jatim Ajukan Pengembangan 11 Pelabuhan Pengumpan Regional

25 November 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

via envato

Pengalihan pengembangan pelabuhan itu dapat memaksimalkan koneksitas antar daerah di Jatim melalui jalur laut.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggulirkan sejumlah strategi untuk mendorong optimalisasi koneksitas antarwilayah via jalur laut. Terbaru, Pemprov Jatim telah mengajukan usulan pengelolaan seluruh pelabuhan pengumpan di wilayah Jawa Timur ke pusat. Pemprov juga berencana untuk segera melakukan pembenahan pelabuhan yang sebelumnya dikelola oleh provinsi.

“Kami sudah mengajukan ke pusat, ada 11 pelabuhan pengumpan regional yang kemudian diserahkan dan dikelola oleh provinsi,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim Nyono.

Menurutnya, pengalihan pengelolaan seluruh pelabuhan itu penting karena dapat memaksimalkan koneksitas antar daerah di Jatim melalui jalur laut.

“Utamanya memberikan multiplier effect terhadap kegiatan ekonomi,” ungkapnya.

Sejauh ini, dari 15 pelabuhan pengumpan regional yang ada di Jatim, empat di antaranya sudah dikelola oleh Pemprov sejak 2022. Di antaranya adalah Pelabuhan Kangean, Sapeken dan Masalembu di Sumenep serta Pelabuhan Bawean di Gresik. Adapun 11 pelabuhan lainnya masih di bawah pengelolaan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Dua dari empat pelabuhan yang dikelola oleh Pemprov sudah dibenahi, yakni Pelabuhan Masalembu dan Bawean.

“Dua pelabuhan ini akan segera diperluas kapasitasnya agar kapal yang berukuran lebih besar bisa bersandar,” sebutnya.

Begitu pun dengan anggaran yang sudah disiapkan untuk pengembangan dua pelabuhan itu. Untuk tahun ini, Pelabuhan Masalembu sudah dianggarkan untuk anggaran sebesar Rp 10 miliar. Targetnya, pelabuhan itu dapat menampung kapal-kapal dengan berat di atas 1.000 dwt.

“Semua kapal tersebut memungkinkan untuk berlabuh saat gelombang mencapai 2 meter,” katanya.

Selain itu, perluasan kapasitas pelabuhan juga bisa membuat kapal lebih intens untuk bersandar. Dari yang awalnya seminggu sekali, kemudian bisa menjadi dua kali dalam seminggu. Dengan demikian ekonomi masyarakat pun bisa lebih terdongkrak.

Pengembangan juga tengah dilakukan di Pelabuhan Bawean yang ditargetkan bisa dibuat untuk bersandar kapal-kapal berkapasitas 5.000 dwt pada tahun ini. Pelabuhan itu juga diproyeksikan bisa disinggahi kapal-kapal besar yang berlebih di Surabaya.

“Pengembangan ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian sekaligus promosi wisata,” ungkapnya.

Adapun untuk peningkatan kapasitas Pelabuhan Bawean, Pemprov Jatim telah menganggarkan dana sebesar Rp 6 miliar, angka yang lebih kecil dari Masalembu karena proyek Bawean merupakan proyek lanjutan dari yang sebelumnya telah digarap.

Sebagai informasi, proyek Pelabuhan Bawean di Gresik telah berlangsung sejak 2021 dan ditargetkan akan rampung pada akhir 2022, proyek ini dialokasikan dana senilai Rp 7 miliar. Lewat pengembangan ini, Bawean diproyeksikan akan menjadi pelabuhan yang disinggahi kapal berkapasitas 5.000 dwt.

Pelabuhan Masalembu di Sumenep telah dianggarkan dana sebesar Rp 10 miliar pada 2022. Dengan pengembangannya, proyek Masalembu diproyeksikan dapat menampung kapal-kapal dengan kapasitas di atas 1.000 dwt.