freightsight
Jumat, 1 Maret 2024

TEKNOLOGI

Motor Listrik Made In Indonesia Siap Ekspor ke Sri Lanka

9 Februari 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

Ekspor Motor Listrik

Motor Listrik via gesitsmotors.com

• Duta Besar RI untuk Sri Lanka dalam pertemuan Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa promosikan pemasaran motor listrik dan alumunium Indonesia di Sri Lanka.

• Kerja sama dua negara dapat didorong peningkatan ekspor Indonesia dalam bentuk intermediate goods untuk keperluan produksi industri Sri Lanka.

Dewi Gustina Tobing selaku Duta Besar RI untuk Sri Lanka dalam pertemuan Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa promosikan pemasaran motor listrik dan alumunium Indonesia di Sri Lanka.

Dalam pertemuannya juga dihadiri Gamini Lakshman Peiris selaku Menteri Luar Negeri Sri Lanka membahas peningkatan kerja sama ekonomi termasuk dalam bidang perdagangan, investasi juga pariwisata.

Salah satu potensi kerja sama ekonomi di Indonesia dengan Sri Lanka antara lain pemasaran motor listrik Indonesia yang di mana Sri Lanka sedang gencar menggaungkan pemanfaatan dan pengembangan teknologi serta ekonomi ramah lingkungan yang berkepanjangan,” ujar Dewi dalam keterangan KBRI Colombo diterima di jakarta, kamis (3/2/2022).

Beliau juga mempromosikan produk alumunium Indonesia pada Sri Lanka pada 2021 bahan impor alumunium Sri Lanka mencapai 427 juta dollar AS.

Menurutnya, produk alumunium yang berasal dari Indonesia mulai dilirik pasar Sri Lanka serta memiliki potensi kuat menjadi salah satu sumber peningkatan ekspor Indonesia ke Sri Lanka.

Bukan hanya sekadar pasar karena menurut Dewi, Sri Lanka ingin menjadi bagian dari kerja sama saling menguntungkan dengan Indonesia sehingga ke depan kerja sama kedua negara ini bisa dikembangkan dalam bentuk kemitraan maupun joint venture.

“Kerja sama melibatkan dua negara ini bisa didorong peningkatan ekspor Indonesia dalam bentuk *intermedie goods *atau semi-finisher products sebagai keperluan produksi industri Sri Lanka,” katanya.

Indonesia bisa memanfaatkan potensi yang dimiliki Sri Lanka sebagai pusat kegiatan maupun sebagai bagian dari penjanjian perdagangan bebas di kawasan Asia Selatan dan tengah.

Dewi juga melanjutkan bahwa kesiapan Indonesia untuk peningkatan kerja sama dalam bidang komoditas perkebunan termasuk dalam pemenuhan kebutuhan minyak nabati.

Dalam pertemuan itu justru Dewi juga menyampaikan bahwa Indonesia siap berdiskusi dan saling berbagi pengetahuan serta pengalaman untuk pengembangan pertanian juga perkebunan berkepanjangan.

Nilai perdagangan RI-Sri Lanka hingga November 2021 telah tercatat 411 juta dollar AS. Dan nilai ekspor Indonesia pada Sri Lanka pada periode tersebut telah mencapai 364 juta dollar AS, serta nilai impor dari Sri Lanka 47,7 juta dollar AS.
Angka itu belum mencerminkan potensi dari kerja sama perdagangan kedua negara yang dikembangkan.

Dengan demikian, menjadi penting menindaklanjuti rencana perundingan preferential tarif agreement (perjanjian tarif istimewa) antar kedua negara tersebut.

Hal lainnya pada pembicaraan antara Dubes RI dan PM Sri Lanka merpakan komitmen kedua negara untuk memperkuat kerja sama bilateral terutama dengan memanfaatkan momentum peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Sri Lanka.