freightsight
Sabtu, 1 Oktober 2022

PELABUHAN

Layanan Kepelabuhan Akan Jadi Anchor Penurunan Biaya Logistik Nasional

22 November 2021

|

Penulis :

Tim FreightSight

Layanan kepelabuhan

Cargo ship near pier with lifting cranes © Kelly L...

Biaya logistik itu memiliki mata rantai yang panjang di mana pelabuhan merupakan salah satu dari mata rantai biaya logistik tersebut.

Arif Suhartono juga mengatakan secara tegas, bahwa ketika mereka membicarakan masalah pelabuhan, itu artinya mereka bukan hanya membicarakan soal 1 pelabuhan (single port) saja, namun juga menyangkut masalah network.

Saat ini, pemerintah memang terus melakukan berbagai upaya untuk menekan biaya logistik. Karena biaya logistik yang besar tentunya bukan merupakan hal baik. Salah satu yang sedang menjadi sorotan adalah biaya logistik di pelabuhan, atau dari sektor pelayaran.

Arif Suhartono selaku presiden direktur PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, menyampaikan bahwa biaya logistik itu memiliki mata rantai yang panjang di mana pelabuhan merupakan salah satu dari mata rantai biaya logistik tersebut.

“Peran pelabuhan ini menjadi anchor bagi penurunan biaya logistik walaupun kontribusi pelabuhan terhadap logistics cost relatif kecil sekitar 1,4%. Tapi, jika layanan kepelabuhan ini tidak kita perbaiki di mata rantai logistics cost, maka akan dapat memengaruhi land transportation dan inventor,” kata Arif Suhartono pada acara Media Gathering & Sharing Session PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Sabtu, 13 November 2021 di Ubud, Bali.

Arif Suhartono juga mengatakan secara tegas, bahwa ketika mereka membicarakan masalah pelabuhan, itu artinya mereka bukan hanya membicarakan soal 1 pelabuhan (single port) saja, namun juga menyangkut masalah network, atau saling keterhubungan. Hal ini disebabkan karena adanya kinerja yang tidak baik di satu pelabuhan maka akan mendapatkan respon dari para pelaku di industri tersebut dengan menaikan biaya logistik dari sisi land transportasi dan inventory.

“Tentunya kami ingin menyosialisasikan dari barat ke timur bahwa berbicara mengenai pelabuhan itu adalah bicara network. Misalnya, ada satu kapal yang singgah di pelabuhan titik A, B, dan C, di mana layanan pelabuhan di titik A bagus, tetapi pelayanan di pelabuhan B dan C tidak bagus, maka secara keseluruhan tidak akan memberikan dampak yang optimal kepada logistics cost. Tentunya, akan lebih baik jika layanan pelabuhan A, B, dan C juga setara bagusnya,” tutur Arif Suhartono.

“Kalau kita ingin men-transform suatu pelabuhan, yang ditransformasi tidak hanya internal-nya saja, tetapi semua stakeholder harus ditransformasi, apakah itu shipping line, cargo owner, forwarding, dan driver. Semua aspek, baik internal maupun eksternal itu semuanya harus ditranformasi,” tambahnya.

Lebih lanjut, Arif Suhartono juga mengatakan bahwa pihaknya memiliki strategi menekan biaya logistik pelabuhan dengan cara memperpendek waktu berlabuh suatu kapal di pelabuhan, atau juga dikenal dengan istilah port stay.

Tidak hanya itu, ada pula efisiensi yang perlu ditingkatkan oleh mereka adalah soal pelayanan pelabuhan. Menurutnya, salah satunya bisa dilakukan dengan cara menghilangkan deadweight loss, seperti waktu bongkar muat yang biasanya lama.

Di sisi lain, beberapa waktu beberapa pihak juga mengatakan bahwa banyaknya instansi yang terlibat dalam pelayanan pelabuhan juga menyebabkan biaya logistik di pelabuhan menjadi mahal. Karena itu, demi melakukan efisiensi, maka diperlukan adanya pemangkasan administrasi, serta perlu adanya integrasi layanan yang salah satunya mereka wujudkan dalam bentuk aplikasi National Logistic System atau NLE.