freightsight
Minggu, 27 November 2022

PENGIRIMAN LAUT

Kontraksi Sektor Manufaktur di Kuartall III/2021 Alami Kontraksi Karena Krisis Energi

25 Oktober 2021

|

Penulis :

Tim FreightSight

Manufacturing © Jezael Melgoza via Unsplash

Belakangan ini, ada begitu banyak masalah dalam hal perdagangan, misalnya mulai dari langkanya kontainer, biaya pengapalan yang melambung, dan juga adanya krisis energi. Secara instan hal ini pada akhirnya memberikan pengaruh dan dampak yang terbilang nyata, yakni, kontraksi sektor manufaktur di kuartall III/2021.

Berdasarkan catatan yang ada, kinerja industri pengolahan pada kuartall III/2021, memang menunjukkan indikasi penurunan hingga ke zona kontraksi. Pihak bank Indonesia sendiri memiliki catatan bahwa Prompt Manufacturing Indeks (PMI) BI pada kuartal III/2021, adalah sebesar 48,75%. Data tersebut menunjukkan adanya penurunan sebesar 57% jika dibandingkan dengan kuartal II/2021.

Bhima Yudhistira, selaku Direktur Center of Law and Economic Studies (Celios), menyatakan bahwa kontraksi PMI-BI ada dalam periode tersebut adalah, karena dipengaruhi oleh berbagai macam implementasi kebijakan PPKM Darurat level 4. Selain itu, disrupsi rantai pasok global juga menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Di sisi lain, dikatakan pula bahwa adanya penurunan kinerja di lini industri manufaktur juga tidak lepas dari adanya krisis energi global. Bahkan, beberapa perusahaan telah tercatat mengurangi, bahkan menghentikan berbagai aktivitas produksi mereka.

“Karena beberapa negara saling berebut pasokan energi dan ini cukup menurunkan produktivitas manufaktur,” ujarnya, rabu (13/10/2021).

Dalam kesempatan yang sama, Bhima juga mengatakan bahwa kontainer yang saat ini langka juga menjadi pemicu lain mengapa adanya pemicu kinerja industri manufaktur.
Perekonomian pada kuartall iii/2021, kemungkinan besar akan terpengaruhi karena adanya kontraksi pada sektor tersebut, hal ini sebagaimana disampaikan oleh Bhima. Karena menurut Bhima sektor pengolahan memiliki efek yang mutiplier dan cukup berkepanjangan.
Namun, ia juga memperkirakan bahwa ada kemungkinan kinerja industri pengolahan akan membaik di kuartall IV/2021, pemicu dari hal tersebut adalah karena sistem PPKM yang sudah mulai longgar, dan juga meningkatnya permintaan domestik.

“Di dalam negeri sudah ada pelonggaran PPKM, wisatawan mancanegara juga sudah boleh masuk, harapannya penguatan industri manufaktur datang dari konsumsi domestik, khususnya di kuartall IV juga untuk memenuhi kebutuhan natal dan tahun baru, di mana mobilitas sudah membaik,” pungkasnya.