freightsight
Sabtu, 1 Oktober 2022

INFO INDUSTRI

Kesulitan Bahan Baku Jadi Hambatan Untuk Produksi Industri Pulp

25 Oktober 2021

|

Penulis :

Tim FreightSight

Stack of Wood © Alexander Schimmeck via Unsplash

Rencana investasi perusahaan China ke Indonesia untuk industri pulp sebagian besar ternyata telah berhasil terealisasi. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh pihak kementerian perindustrian.

Hanya saja, dalam rencana tersebut, ternyata mengalami beberapa kendala untuk memulai produksinya. Salah satu hambatannya adalah karena sulitnya mendapatkan bahan baku, keterangan tersebut diberikan oleh Emil Satria selaku direktur hasil hutan dan perkebunan kementerian perindustrian tekstil.

Flying Dragon Papper, yang merupakan salah satu perusahaan kertas terbesar di China, beberapa waktu kebelakang diketahui telah berencana untuk melakukan investasi pada industri pulp dan kerta di Indonesia. Total investasi tersebut diperkirakan mencapai USD 1 miliar, yang mana dengan nominal tersebut diperkirakan akan mampu dilakukan produksi sebanyak 6 juta ton untuk 3 juta produk kemasan, serta 3 juta recycle pulp.

“Sebagian besar sudah terealisasi, akan tetapi masih terdapat kendala terkait sulitnya mendapatkan bahan baku dan keterbatasan memasukan tenaga ahli, untuk memulai proses produksi,” ujar Emil.

Berdasarkan pengertian Emil, diketahui pula bahwa Flying Dragon Papper bukan satu-satunya perusahaan kertas asal negeri tira bambu yang berniat untuk melakukan investasi pada Indonesia, dalam industri kertas.

Namun rencana yang dimiliki oleh beberapa perusahaan tersebut, pada akhirnya masih harus tertunda karena masalah pandemi. Sedangkan berdasarkan data, hingga kuarta I/2021 volume produksi kertas dan pulp telah tumbuh sebanyak 6%.

Data pertumbuhan volume kertas didapatkan dari pengumpulan 41 perusahaan. Emil juga percaya bahwa angka pertumbuhan yang positif akan bisa dipertahankan hingga akhir tahun ini, bahkan meskipun ada kendala ekspor impor, dan logistik yang masih terus melanda.
Diakui pula oleh Emil bahwa adanya kelangkaan kontainer yang berpengaruh pada ekspor-impor, dan juga biaya pengapalan yang mahal, juga menjadi salah satu penyebab permasalahan.

“Permasalahan utamanya adalah terkait dengan kelangkaan kontainer untuk ekspor impor dan biaya pengiriman yang mahal".
Selain itu, diketahui pula secara total ada 6 perusahaan dalam negeri yang berencana melakukan investasi kertas di Indonesia.