freightsight
Sabtu, 1 Oktober 2022

PELABUHAN

Kinerja Produksi Peti Kemas Pelabuhan Belawan Mengalami Koreksi 1 Persen

30 Desember 2021

|

Penulis :

Tim FreightSight

Produksi peti kemas

Peti kemas Foto/PT Pelindo II

• Sampai November 2021 diketahui kinerja peti kemas untuk ekspor dan impor di Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara telah mengalai koreksi sebesar 1 persen.

• Menurut Edy Irwansyah selaku Sekretaris Eksekutif Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara, ketersediaan kontainer dan metal box yang digunakan untuk mengangkut karet kini tidaklah memadai.

Sampai November 2021 diketahui kinerja peti kemas untuk ekspor dan impor di Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara telah mengalai koreksi sebesar 1 persen, jika di bandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Meskipun demikian, Yarham Harid selaku General Manajer Terminal Peti Kemas, menyampaikan bahwa kinerja dari petikemas masih terbilang relatif stabil.

“Untuk produksi peti kemas ekspor year on year cukup stabil, namun ada koreksi lebih kurang 1 persen sampai dengan November 2021. Khusus di Belawan, saat ini jumlah ekspor dan impor masinh stabil,” kata Yarham kepada Bisnis, Kamis (23/12/2021).

Jika melihat sisi terminal, jumlah empty yang masuk, atau impor ke Pelabuhan Belawan, adalah sebanyak 20 persen dari muatan kapal.

Sedangkan untuk peti kemas empty yang keluar atau ekspor dari Pelabuhan Belawan, adalah sebanyak 8 persen. Yurhan menyampaikan ada sebanyak 9 perusahaan pelayaran peti kemas internasional yang selama ini melakukan kegiatan di Pelabuhan Belawan.

Perusahaan tersebut adalah, PT Samudera Indonesia, Maersk Line/PT Pelayaran Bintang Putih, MSC/PT Panurjuwan, RCL, Wanhai/PT Bintika Bangunnusa, OOCL/PT Karana Line, PT Caraka Tirta Perkasa, Evergreen Shipping Agency Indonesia, CMA-CGM dan PT Maratus Lines.

Tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa waktu ke belakang, para pelaku usaha di Sumatera Utara memang mengalami beberapa kendala, salah satunya adalah susahnya mendapatkan kontainer. Hal tersebut pada akhirnya menyebabkan komoditas karet jadi cukup stagnan pada tahun ini.

Menurut Edy Irwansyah selaku Sekretaris Eksekutif Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara, ketersediaan kontainer dan metal box yang digunakan untuk mengangkut karet kini tidaklah memadai. Alhasil, kinerja ekspor karet dari Provinsi Sumatera Utara, diperkirakan masih akan stagnan. Padahal, volume ekspor untuk pengapalan di bulan November 2021 adalah sebesar 36.873 ton.

"Pengapalan pada Desember masih diwarnai dengan adanya delay shipment karena adanya keterbatasan metal box pengemas karet dan keterbatasan ketersediaan kontainer. Dengan adanya keterbatasan ini, kinerja ekspor karet Sumatra Utara diperkirakan masih stagnan," ujar Edy, Senin (20/12/2021)