freightsight
Jumat, 3 Februari 2023

PENGIRIMAN DARAT

Kereta Barang China-Eropa Sumbang Perbaikan Ekonomi Global

30 April 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

Perdagangan China-Eropa

Kereta Kargo China-Eropa via beritatrans.com

Pada 2021, jumlah perjalanan kereta kargo China-Eropa telah melebihi angka 15.000, naik 22 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan menorehkan rekor baru sekaligus berkontribusi terhadap ekonomi dunia.

Hal ini karena setidaknya ada 40 perjalanan kereta kargo China-Eropa menuju tempat tujuannya masing-masing setiap hari. Horgos, yang dikenal sebagai "stasiun transit milenium" di sepanjang Jalur Sutro Kuno, berfungsi sebagai pelabuhan kereta api utama di Daerah Otonom Uighur Xinjiang, China barat laut.

Kereta kargo China-Eropa pertama berangkat dari Horgos pada Maret 2016. Sejak saat itu, kereta kargo dari seluruh negeri berangkat ke tujuan mereka di Asia dan Eropa melalui Horgos.

Hingga saat ini, pelabuhan pedalaman tersebut sudah menangani sekitar 20.000 perjalanan kereta kargo yang kini menjadi jalur pusat strategis yang menghubungkan titik pusat lainnya di luar China.

Sebagai salah satu destinasi pengiriman utama kereta kargo China-Eropa, Kota Duisburg yang terletak di sepanjang tepi sungai Rhine dan Ruhr berfungsi sebagai pusat pelabuhan yang akan menjangkau wilayah lain di Eropa.

Sepanjang 2022, layanan kereta kargo ini telah mengoperasikan 15.183 perjalanan kereta yang naik sekitar 22 persen (yoy) dan menorehkan rekor baru. Kini semakin banyak pengusaha China menaruh investasi di Duisburg.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China, hingga akhir Desember 2021 total sebanyak 48.814 perjalanan kereta kargo China-Eropa telah mengangkut 4,432 juta TEU (twenty-foot equivalent unit) barang.

Sebelumnya, perang di Ukraina telah membahayakan konektivitas kereta api China ke Eropa ini karena sebagian besar rute lainnya melewati Rusia. Keadaan itu juga memunculkan pertanyaan tentang nasib proyek China, Inspiratif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI) untuk membangun infrastruktur di puluhan negara.

Para analis memprediksi, bahkan walaupun perang akan segera berakhir, baik China maupun Ukraina tidak lagi tertarik untuk melanjutkan proyek BRI.

"Pada dasarnya proyek BRI di Ukraina tidak direncanakan. Bahkan China mungkin tidak lagi tertarik untuk melanjutkan investasi di negara dengan ekonomi yang hancur lebur," kata Jacob Merdell, peneliti infrastruktur global dan kebijakan luar negeri China di Mercator Institute of Chinese Studies.

BRI adalah program infrastruktur terbesar di dunia, dengan sejumlah proyeknya tersebar di Eropa, Asia, dan Afrika. China diperkirakan telah menggelontorkan dana investasi senilai US$ 59,5 miliar dalam proyek tahun lalu, dan sudah lebih dari US$ 800 miliar dana investasi keluar sejak program diluncurkan pada 2013.

Seminggu sebelum terjadinya perang pada 24 Februari, Perancis menjalin kesepakatan dengan China untuk bersama-sama membangun infrastruktur senilai US$ 1,7 miliar di Afrika, Asia Tenggara, dan Eropa Timur. Namun kini rencana itu mungkin terancam akibat kemarahan negara-negara Barat terhadap Rusia yang dikhawatirkan akan meluas ke China, yang dipandang sebagian kalangan mendukung Moskow.

Adapun China-Europe Railway Express adalah rute transit untuk ekspor China. Meskipun juga membawa sejumlah kecil barang dari Eropa ke kota-kota China. Jaringan yang memiliki 73 rute ini menghubungkan China dengan Kazakhstan, Rusia, Belarus, Jerman, Polandia, Perancis, Republik Ceko, dan Spanyol. Kereta kargo yang bergerak di sepanjang rute ini melakukan 3.530 perjalanan pada kuartal I 2022, menurut sumber resmi China.

Jumlah perjalanan tersebut diperkirakan akan menurun setengah atau lebih jika negara-negara Eropa masih akan mengisolasi Rusia, yang berada di tengah-tengah rute ini, kata ahli.