freightsight
Selasa, 5 Juli 2022

EKSPOR

Kemendag Kesulitan untuk Dongkrak Ekspor Tanpa Kerek Impor

23 Juni 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

Ekspor Impor

Ekspor Logistik via mediaindonesia.com

Kemendag kini sudah mengakui kesulitan menggenjot ekspor jika memang impor sudah tidak lagi ditingkatkan.

Ari Satria selaku Sekretaris Ditjen Perundingan Perdagangan Internasional di sini juga mengatakan bahwa hal yang terpenting adalah untuk bisa menjaga neraca perdagangan surplus.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) kini sudah mengakui kesulitan menggenjot ekspor jika memang impor sudah tidak lagi ditingkatkan. Pasalnya, karena saat ini Indonesia masih banyak yang mengimpor bahan baku.

"Kalau kita mau menaikkan ekspor, mau tidak mau impor pasti akan naik karena memang sebagian bahan baku untuk ekspor itu adalah dari impor," ungkap Ari Satria selaku Sekretaris Ditjen Perundingan Perdagangan Internasional dalam Sosialisasi Hasil Perundingan Perdagangan Internasional IK-CEPA, Selasa (21/6/2022).

Ari Satria selaku Sekretaris Ditjen Perundingan Perdagangan Internasional di sini juga mengatakan bahwa hal yang terpenting adalah untuk bisa menjaga neraca perdagangan surplus.

Pada tahun 2021 saja, nilai ekspor Indonesia sudah berhsil mencapai US$231,5 dengan nilai impornya adalah sebesar US$196 miliar.

Di sini pun beliau juga mengatakan bahwa memang negara lain ternyata juga telah menaikkan kegiatan impor agar kegiatan ekspor bisa mudah terangkat.

Misalnya saja di Korea yang memang nilai ekspornya adalah US$664 juta dengan nilai impornya adalah US$615 juta pada tahun 2021 lalu.

"Jadi dia kalau ekspornya naik ya beli bahan baku juga kan. Demikian juga untuk kita," ujar Ari Satria selaku Sekretaris Ditjen Perundingan Perdagangan Internasional.

Lebih lanjut, beliau juga menyinggung soal ekspor yang ada di Jawa Tengah yang rupanya juga mengalami berbagai macam masalah, salah satunya adalah infrastruktur utama seperti pelabuhan yang memang kurang memenuhi syarat untuk bisa berlabuhnya kapal-kapal besar.

Bukan hanya itu saja, angkutan kapal yang menggunakan cold storage ternyata juga masih saja terbatas sehingga produk-produk yang memerlukan pendingin tidak akan dapat terlayani dengan maksimal.

"Kemudian, masalahnya ada pada peningkatan produk ekspor baik standarnya maupun sertifikasinya. Kadang-kadang kita terbentur pada biaya sertifikasi," ungkap Kadin Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah Muhammad Arif Sambodo.