freightsight
Rabu, 28 September 2022

INFO INDUSTRI

Ini Penyebab Kelangkaan Kontainer Jadi Semakin Parah

24 November 2021

|

Penulis :

Tim FreightSight

Tumpukan Kontainer

Container Box © Sebastian Herrmann via Unsplash

• Salah satu dampak negatif Covid-19 adalah terjadi lonjakan yang sangat signifikan untuk produksi dan perdagangan menyebabkan adanya ketidakseimbangan pasar, yang kemudian berimbas pada kurangnya bahan baku, dan juga kelangkaan kontainer.

• Saat ini produksi juga dituntut untuk meningkat sebagai upaya untuk melakukan koreksi pasar yang terjadi selama masa pandemi, sehingga masalah kelangkaan kontainer kini menjadi semakin parah dari waktu sebelumnya.

Pemulihan ekonomi global dari serangan pandemi Covid-19, ternyata bisa dilakukan lebih cepat dari yang diperkirakan oleh banyak pihak. Tentu saja ini adalah hal yang baik, akan tetapi juga memberikan beberapa dampak negatif, misalnya terjadinya lonjakan yang sangat signifikan untuk produksi dan perdagangan menyebabkan adanya ketidakseimbangan pasar, yang kemudian berimbas pada kurangnya bahan baku, dan juga kelangkaan kontainer.

Kondisi semakin parah karena terjadi krisis di negeri China, yang mana hal ini tentu saja juga sangat memengaruhi Indonesia, karena Indonesia masih bergantung pada beberapa barang di negeri tirai bambu tersebut.

Bob Azam, selaku Wakil Ketua Bidang Manufaktur Gabungan Pengusaha Ekspor Impor (GPEI), menyampaikan bahwa saat ini hampir semua dunia negara di seluruh dunia telah melakukan recovery. Salah satu tandanya adalah dengan adanya data purchasing manager indeks (PMI) yang saat ini sudah masuk pada zona ekspansif.

Selain itu, produksi juga dituntut untuk meningkat sebagai upaya untuk melakukan koreksi pasar yang terjadi selama masa pandemi. Hal ini juga terjadi dalam waktu yang bersamaan, sehingga masalah kelangkaan kontainer kini menjadi semakin parah dari waktu sebelumnya.

"Sehingga wajar kontainer ngumpul di satu negara dan tidak terdistribusi dengan baik. Sehingga kita mengalami krisis bahan baku," katanya kepada CNBC Indonesia, dikutip, Sabtu (20/11/2021).

Krisis energi yang terjadi di China juga menyebabkan industri jadi kesulitan untuk melakukan kejar target produksi yang diminta oleh pasar. Bob mengatakan bahwa untuk bahan produksi alternatif yang berasal dari pasar Eropa juga mengalami kendala karena sulitnya tenaga kerja dalam melakukan mobilitasnya karena saat ini mereka masih ada dalam pembatasan mobilitas dampak dari gelombang tiga.

"Ini menjadi satu krisis bahan baku dan menghambat recovery industri kita karena 70% masih impor terutama dari China," jelas Bob.

Kemudian, krisis energi yang terjadi di China juga mulai memacu pengguna energi fosil seperti batu bara, hal ini dampaknya cukup buruk karena bisa merusak lingkungan. Padahal, saat ini ada begitu banyak negara yang sedang menyoroti tentang masalah lingkungan.

"Seperti India juga meliburkan sekolah karena polusi tinggi," katanya.