freightsight
Minggu, 4 Desember 2022

INFO INDUSTRI

Holding ID Food Mengembangkan Ekosistem Rantai Pasok Bagi Nelayan

29 September 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

Ilustrasi Nelayan via tirto.id

Food merupakan salah satu holding pangan yang mengembangkan ekosistem rantai pasok nelayan sinergi Kemenkomarves dan KKP.

Ekosistem rantai pasok nelayan meliputi hulu hilir integrasi perikanan dari penyediaan fasilitas pendukung para nelayan seperti penyediaan layanan BBM kapal nelayan, dok kapal juga bengkel untuk kapal nelayan, penyediaan es juga cold storage untuk penyimpanan ikan.

Food merupakan salah satu holding pangan yang di dalamnya mengembangkan ekosistem rantai pasok nelayan sinergi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves) juga Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam rangka untuk bisa mengembangkan blue economy dan blue food melalui lini bisnis sektor perikanan.

Frans Marganda selaku Direktur Utama Holding Pangan ID Food dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (28/9/2022) menyebutkan bahwa BUMN Pangan ID Food melalui anggota holding sektor perikanan yakni PT Perikanan Indonesia memiliki potensi untuk bisa mengembangkan ekosistem rantai pasok nelayan dari wilayah operasional yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Ekosistem rantai pasok nelayan ini bertujuan selain memberdayakan nelayan untuk meningkatkan produksi hasil laut juga dapat menjaga pasokan kebutuhan komoditas ikan dan kesejahteraan nelayan,” kata Frans.

Ekosistem rantai pasok nelayan ini, lanjut Frans, meliputi hulu hilir integrasi perikanan mulai dari penyediaan fasilitas pendukung untuk para nelayan misalnya penyediaan layanan BBM kapal nelayan, dok kapal dan juga bengkel untuk kapal nelayan, penyediaan es juga cold storage untuk penyimpanan ikan.

Menurut Frans, dilansir dari Antara, hal ini tentu sangat sejalan dengan yang diamanahkan Menteri BUMN Erick Thohir untuk bisa membangun ekosistem perikanan dan mendorong BUMN seperti Perindo anggota dari ID Food, himpunan bank negara (himbara) untuk bisa terlibat dalam ekosistem perikanan.

Di samping itu, pada ekosistem rantai pasok nelayan ini juga tentu saja akan dikembangkan Sistem Resi Gudang (SRG) Perikanan dan teknologi digitalisasi hingga pendanaan bagi para nelayan kerja sama dengan Himbara termasuk di dalamnya juga ada perlindungan asuransinya untuk para nelayan.

Pada kesempatan yang sama, tentunya Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut B. Pandjaitan di sini mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara maritim sekitar 75 persen wilayahnya tertutup air laut dan Indonesia memiliki lebih dari 17.500 pulau dengan garis pantai sekitar 108.000 km. Menurutnya, dengan segala berkah tersebut tentu saja Indonesia ini memang memiliki banyak sekali potensi.

“Indonesia memiliki komitmen yang kuat dalam mengambil tindakan untuk melindungi, mengelola, dan memulihkan sumber daya alam secara berkelanjutan, mengembangkan ekonomi kita ke tahap ekonomi biru. Dengan berpedoman Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Indonesia berkomitmen dan mendukung kerja sama strategis dalam Kemitraan Aksi Agenda Biru Nasional,” kata Menko Luhut secara Daring disampaikan pada kegiatan Workshop Blue Agenda Rose to Ocean 20.