freightsight
Minggu, 4 Desember 2022

REGULASI

Rantai Pasokan Pangan dapat Dibenahi oleh Presidensi G20 Indonesia

5 Juli 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

Rantai Pasok Pangan

Dokumentasi G20 via kemkes.go.id

Kunjungan Presiden RI ke Ukraina dan Rusia menunjukkan bahwa Presidensi G20 dipegang Indonesia bisa berperan demi membenahi rantai pasokan pangan global.

Vladimir Putin selaku Presiden Rusia juga diberitakan telah memberikan jaminan keamanan pasokan pangan dan pupuk dari Ukraina serta Rusia di hadapan Presiden Joko Widodo.

Dandy Rafitrandi selaku Peneliti ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menyatakan bahwa kunjungan Presiden Joko Widodo ke Ukraina dan Rusia menunjukkan bahwa Presidensi G20 yang dipegang penuh oleh Indonesia bisa berperan demi membenahi rantai pasokan pangan global.

Dandy Rafitrandi dalam acara media briefing juga mengatakan bahwa "Memaknai lawatan Presiden Joko Widodo ke Eropa", di Jakarta, pada Jumat (1/7/2022), menjelaskan bahwa kedatangan Presiden Joko Widodo ke Ukraina dan Rusia selain berusaha untuk bisa membuka komunikasi di antara keduanya, tentu juga berusaha untuk bisa mencari solusi terhadap bibit, bahan pangan, juga pupuk yang selama ini telah dipasok oleh Rusia dan Ukraina.

Melalui kunjungan tersebut, lanjutnya juga diharapkan untuk ke depannya juga bisa membuat berbagai macam bahan terkait sektor pangan yang selama ini memang dipasok oleh Rusia dan Ukraina kembali terintegrasi dengan rantai pasokan dunia.

Apalagi Vladimir Putin selaku Presiden Rusia juga diberitakan bahwa telah memberikan jaminan keamanan pasokan pangan dan pupuk dari Ukraina serta Rusia di hadapan Presiden Joko Widodo.

"Yang harus kita putuskan sekarang adalah bagaimana menjamin rantai pasokan terutama pangan, meningkatkan komitmen dan juga memobilisasi resources (sumber daya) yang kita punya di G20," ungkap Dandy.

Dandy di sini juga menambahkan bahwa Pemerintah Indonesia harus memiliki satu agenda jangka pendek untuk bisa mengamankan pasokan pangan maupun pupuk. "Tahun ini kita berbicara akses makanan, tapi tahun depan kita akan berbicara kehilangan makanan tersebut," ungkap Dandy.

Dandy di sini juga menjelaskan bahwa Pemerintah Indonesia harus ikut untuk bisa melibatkan negara-negara G20 dalam isu ini yaitu salah satunya adalah India karena memang mereka adalah tuan rumah bagi G20 berikutnya.

"Kita juga harus tahu bahwa pentingnya membawa India on board untuk memahami isu pangan dan juga energi yang juga sangat penting dan juga memperlihatkan negara-negara berkembang juga memiliki andil untuk bisa mendamaikan atau menurunkan tensi antara Ukraina dan Rusia," ungkap Dandy.

Dandy di sini pun juga menambahkan bahwa selain pangan dan pupuk pemerintah Indonesia dan G20 tentu juga bisa untuk mulai memfokuskan agenda terkait dengan bantuan kemanusiaan terutama bagi pendanaan rekonstruksi yang ada di Ukraina.

Sebagaimana yang telah diwartakan, pemerintah juga akan bisa memperkuat ketahanan pangan nasional serta menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk bisa mengantisipasi krisis pangan global, ungkap Airlangga Hartarto selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

"Rapat kali ini merupakan tindak lanjut dari arahan Bapak Presiden terkait dengan ketersediaan pangan strategis, yang sampai bulan Juli ini relatif aman, baik dari sisi pasokan maupun stabilitas harga," ungkap Airlangga di Jakarta, Kamis (30/6/2022), terkait pembahasan dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) tentang Kebijakan Pangan.

Rakortas tersebut yang saat itu dihadiri oleh Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Menteri Keuangan, Menteri Pertanian, Kepala Badan Pangan Nasional, Kepala BNPB, Dirut Bulog, beserta sejumlah pimpinan kementerian/lembaga juga membahas mengenai kondisi terkini terkait dengan situasi pangan nasional serta antisipasi krisis global yang ada di bidang pangan, serta berbagai upaya yang akan dilakukan untuk bisa menjaga ketahanan pangan nasional.