freightsight
Minggu, 4 Desember 2022

PENGIRIMAN LAUT

Eksportir Tetap Jualan, Meskipun Ongkir Tinggi, Buntut dari Kelangkaan Kontainer

26 Oktober 2021

|

Penulis :

Editor Freightsight

Pengusaha wanita membungkus paket pesanan

Young Asian Entrepreneur © Tirachardz via Freepik

Meskipun saat ini biaya ocean freight atau biaya perkapalan mengalami kenaikan, yang sangat besar, namun pihak eksportir tetap memilih untuk mengirimkan barang mereka ke pasar internasional. Saat ini, biaya perkapalan memang sedang mengalami kenaikan hingga 5 kali lipat, jika dibandingkan dengan biaya normal.

Dari ketua umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno diketahui bahwa langlah tetap mengirim barang, dilakukan oleh para eksportir, demi menjaga hubungan mitra dagang yang sudah mereka jalin dengan sejumlah negara. “Sekalipun tidak untung, tapi tetap memiliki pembeli di sana, dari pada (jika) kita tidak memberikan suplai nanti importir malah mencari orang lain untuk mendapatkan suplai, dan kita jadi tidak bisa masuk ke sana lagi” jelas Benny, pada kamis (30/09/2021)

Hasil dari konsistensi eksportir menunjukkan hal baik, karena terlihat neraca dagang indonesia, sampai kini masih tetap menunjukkan positif pada bulan Agustus ini. Di bulan tersebut, tercatat surplus sebesar US$4,47 miliar. Nilai surplus ini tercatat jauh lebih besar jika kita bandingkan dengan surplus pada bulan Juli yang hanya sebesar US$ 2,59 miliar.

“Neraca perdagangan kita masih surplus, dan memang tahun ini tertinggi kelihatannya dari pada tahun-tahun sebelumnya, meskipun biaya kirimnya sangat tinggi” tambah Benny.

Sedangkan di sisi lain, pihak Menteri Perdagangan mengatakan bahwa saat ini, Indonesia masih cukup kesulitan untuk merebut pasar ekspor dari China, dan ini juga merupakan buntut dari langkanya kontainer yang hanya mencapai 5.000 unit di setiap bulannya.

“Dampak dari langkanya kontainer, pada akhirnya membuat kita tidak bisa memanfaatkan pesanan yang begitu besar untuk mengisi kekosongan yang biasanya disuplay oleh China, itu merupakan konsekuensi yang ingin kita elakan,” beber Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, ketika mengadakan konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/09/2021).

Pada kesempatan tersebut Menteri Perdagangan juga memberikan contoh kasus, misalnya, industri mebel yang ada di Jawa Timur mengalami kesulitan untuk melakukan ekspor barang mereka ke Amerika Serikat hingga 800 kontainer pada beberapa waktu kebelakang. Sebenarnya, pihak Kementerian Perdagangan dan kamar dagang, telah melakukan perhitungan secara seksama, dan menentukan bahwa industri yang bergerak dalam bidang perkayuan, setiap pekannya membutuhkan lebih dari 1.000 kontainer.

Selain itu, Lutfi juga mengatakan bahwa permasalahan serupa juga berpotensi untuk dirasakan oleh sejumlah industri dengan relasi ekspor yang relatif tinggi untuk neraca dagang dalam negeri. Beberapa industri tersebut misalnya, pakaian, garmen, elektronik, alas kaki, bahkan makanan dan minuman, yang bisanya memenuhi permintaan pasar internasional yang kini sudah ditinggalkan China.

Beberapa waktu ke belakang, Kementerian Perdagangan bersama Kamar Dagang (KADIN), Asosiasi Logistik, dan Forwarder Indonesia, dan *Main Line Operator *bekerjasama untuk mencoba memenuhi kebutuhan kontainer dalam negeri. Hasil yang didapatkan dari kerjasama tersebut, pihak Main Line Operator telah menyanggupi, bahwa mereka akan menyediakan 800 sampai 1.00 kontainer setiap pekannya untuk industri mebel yang ada di dalam negeri. Kemudian produk eksport dari produksi mebel tersebut akan dikirim pada beberapa tujuan luar negeri seperti Los Angles, New York, Savana, Baltimore, serta Florida.

Di sisi lain, untuk industri makanan dan minuman, nantinya setiap pekan akan mendapatkan fasilitas kontainer sebanyak 3.500 sampai 3.800. untuk tujuan ekspor dari industri makanan dan minuman adalah, beberapa negara ASEAN, China, Korea Selatan, Jepang, Hongkong, Pakistan, India, Eropa, Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Afrika.