freightsight
Jumat, 19 April 2024

EKSPOR

Ekspor Melemah, BPS Sebut Harga Komoditas Lesu

7 Februari 2023

|

Penulis :

Tim FreightSight

via unsplash

Pertumbuhan ekspor tahun 2022 masih lebih lemah dari 2021.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut kinerja pertumbuhan ekspor barang dan jasa sepanjang 2022 tumbuh impresif mencapai 16,28 persen.

Ekspor juga tercatat memberikan kontribusi sebesar 24,49 persen atau terbesar ketiga setelah konsumsi rumah tangga dan investasi terhadap total pertumbuhan ekonomi nasional tahun lalu. Meski demikian, terdapat sejumlah catatan yang masih menjadi PR bagi pemerintah.

Kepala BPS, Margo Yuwono mengatakan, pertumbuhan ekspor 2022 yang impresif tersebut nyatanya lebih lemah dibandingkan tahun 2021 yang tumbuh sebesar 17,95 persen.

"Windfall (harga komoditas) ekspor masih berlanjut pada 2022, tetapi angkanya melemah akibat harga beberapa komoditas ekspor mengalami penurunan," kata Margo pada Senin(6/2/2023).

BPS mencatat, komoditas unggulan yang mengalami penurunan harga di antaranya adalah minyak sawit. Kendati demikian, volume dan ekspor minyak sawit masih mengalami peningkatan di tahun 2022 lalu.

Mengutip laporan ekspor dan impor BPS pada Januari lalu, pergerakan harga minyak sawit selama tahun 2022 memang mengalami penurunan. Rata-rata harga yang awalnya berada di kisaran US$ 1.270 dolar per metrik ton, menjadi anjlok di awal tahun hingga menyentuh level US$ 940 per ton pada Desember 2022 atau turun sebesar 25,9 persen year on year.

Sebelumnya, harga komoditas yang tinggi memang memberi keuntungan bagi posisi Indonesia sebagai eksportir. Itu karena dapat efek winfdall mampu mendongkrak kinerja ekspor serta mendatangkan surplus neraca perdagangan. Namun, harga komoditas RI di pasar global justru menurun.

"Yang jadi masalah, harga komoditas unggulan Indonesia di pasar global sudah menunjukkan tren penurunan," tegasnya.

Sejauh ini, komoditas utama yang lebih dominan dalam mendongkrak ekspor Indonesia adalah bahan bakar mineral dengan pertumbuhan sebesar 67,46 persen, kemudian diikuti besi dan baja sebesar 32,94 persen, serta kendaraan dan bagiannya sebesar 27,15 persen. Di samping ekspor barang, kinerja ekspor jasa juga mencatatkan tren kenaikan yang cukup positif yakni sebesar 56,06 persen.

"Hal ini terjadi seiring dengan peningkatan jumlah wisatawan mancanegara yang masuk melalui bandara internasional di mana jumlahnya naik sebesar 2.301 persen," katanya.