freightsight
Sabtu, 1 Oktober 2022

REGULASI

Ekonomi Global Hadapi Tantangan Baru Akibat Lockdown di Shanghai

4 April 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

Ekonomi Global

Shanghai via Unsplah

**Kebijakan lockdown akibat Covid-19 yang kembali mengganas di Shanghai memberikan efek buruk pada dinamika ekonomi global, termasuk jatuhnya harga minyak dunia. **

Perekonomian dunia tengah menghadapi bahaya baru akibat penguncian (lockdown) yang diterapkan di Shanghai, China, mulai Senin (28/3/2022). Seperti diketahui, kota itu merupakan pusat perekonomian China.

Seperti diberitakan dalam CNN International, sesaat setelah pengumuman lockdown dilontarkan, harga minyak mentah dunia anjlok drastis karena para pedagang meramal bahwa pembatasan tersebut akan mengurangi permintaan dari para konsumen utama. China sendiri mengimpor sekitar 11 juta barel minyak per hari.

Di sisi lain, saham tetap bertahan. Bursa Efek Shanghai tetap buka dan mengatakan akan menawarkan layanan online bagi perusahaan yang ingin melakukan pencatatan saham.

"Shanghai sendiri memasok sekitar 4% dari output ekonomi China," ungkap analis Larry Hu dari Macquaire Capital sambil memperingatkan dampak ini bisa bertransformasi lebih substansial.

Hu juga menambahkan, lockdown ini dapat menghambat Beijing yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,5% pada 2022. Belanja konsumen dan sektor real estat China, yang sebelumnya tertekan oleh krisis ekonomi serius, kemungkinan akan menjadi yang paling menderita akibat kondisi ini.

"China seharusnya mampu menahan virus hingga beberapa minggu ke depan karena lockdown yang efektif. Tetapi pandemi Covid-19 memancing risiko pertumbuhan yang substansial di tahun ini karena biaya penguncian yang sangat mahal," tuturnya.

Sementara itu, Kamar Dagang Jerman di Shanghai mengemukakan, tindakan China di Shanghai juga menimbulkan kekhawatiran pada lebih dari 800 perusahaan multinasional di kota itu.

"Langkah-langkah tidak terduga yang diberlakukan dalam semalam untuk memerangi Covid menimbulkan masalah bagi 831 perusahaan internasional yang operasi regionalnya berpusat di kota," katanya seperti dikutip dalam Newsweek.

Selain itu, pengungsian Shanghai juga diyakini akan membawa masalah ke rantai pasok global. Kota itu adalah rumah pelabuhan laut tersibuk di dunia untuk kargo peti kemas dan merupakan salah satu bandara untuk pesawat kargo terbesar sehingga diprediksi akan mengganggu aktivitas ekspor dan impor global.

Meski otoritas setempat mengatakan pelabuhan akan tetap beroperasi normal, tetap diberlakukan aturan ketat terkait pengiriman. Mereka yang bekerja harus Melawati screening tes Covid-19 dan menyertakan dokumen lengkap.

Sebelumnya, lockdown di Shanghai dibagi dalam dua tahap. Sisi timur di Sungai Huangpu ditutup sejak 28 Maret hingga 1 April. Menyusul setelahnya, sisi Barat Kota akan ditutup selama empat hari.

"Masyarakat diminta untuk mendukung kebijakan tersebut, mampu memahami dan bekerja sama dengan mencegah dan mengendalikan epidemi kota, serta berpartisipasi dalam pengujian asam nukleat secara tertib," ungkap otoritas dalam pengumumannya pada Minggu (27/3/2022).

Seiring kebijakan tersebut, ekonomi dunia juga harus menghadapi tantangan akibat jatuhnya harga minyak dunia sebesar 8% pada posisi terendah perdagangan Senin (28/3/2022). Ketakutan atas lockdown di China dan dampak potensial pada permintaan global membuat harga minyak jatuh.

Dilansir Reuters, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 8,25% pada level US$ 104,50 per barel. Sedangkan harga minyak mentah Brent diperdagangkan 7,4% lebih rendah pada level US$ 111,61 per barel.

Namun, kedua kontrak minyak memulihkan sejumlah kerugian selama perdagangan sore di Wall Street. WTI mengakhiri harga di level US$ 105,96 dengan kerugian 7%. Sementara Brent bertahan 6,77% lebih rendah pada angka US$ 112,48 per barel.

Sebagai informasi, China adalah importir minyak terbesar di dunia, sehingga setiap penurunan permintaan akan mempengaruhi harga. Negara ini menggunakan 15 juta barel per hari, mengimpor 10,3 juta barel per hari sepanjang 2021.