freightsight
Sabtu, 1 Oktober 2022

INFO INDUSTRI

Diproyeksi Bahwa Tren Surplus Neraca Dagang Akan Bertahan Hingga Akhir Tahun

16 November 2021

|

Penulis :

Tim FreightSight

Profit

Businessman touching the tip of a bar chart © jan...

Bulan Oktober 2021 diketahui bahwa surplus neraca dagang mencatatkan rekor yang cukup fantastis yakni mencapai nilai USD 74 miliar. Surplus kali ini tentunya melampaui rekor pada bulan Agustus 2021, yang mana pada bulan tersebut tercatat nilai sebesar USD 4,74 miliar. Surplus dagang yang baik ini didorong oleh kinerja ekspor yang moncer yakni sebesar USD 22,03 miliar.

Nilai yang disebutkan di atas diketahui tumbuh sebesar 6,89 persen dengan periode bulanan (month to month/mtm) dan 53,35 persen dengan menggunakan periode tahunan (year on year/yoy). Di sisi lain, pada bulan Oktober nilai impor menunjukkan sebesar USD 16,29 miliar, dengan demikian nilai tumbuh sebesar 51,06 persen (yoy).

Mohammad Faisal selaku Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), mengatakan bahwa kinerja ekspor yang baik tentunya akan mendorong keberlanjutan tren surplus sampai akhir tahun.

"Surplus perdagangan ke depannya memang berpotensi terus terjadi hingga akhir tahun. Penyebab utamanya ini lebih karena peningkatan ekspor daripada penurunan impor," jelas Faisal kepada Bisnis, Senin (15/11/2021).

**Ada Beberapa Faktor yang Memicu Tren **
Faisal mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang memicu terjadinya tren tersebut. faktor pertama adalah karena adanya kenaikan harga komoditas global yang disebabkan oleh dirupsi suplai. Faktor kedua adalah permintaan terhadap komoditas meningkat sejalan dengan pulihnya perekonomian beberapa negara, terkhusus negara yang memang menjadi mitra dagang Indonesia.

Terutama adalah adanya ekspor ke China, yang berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS), memang mengalami peningkatan yang cukup besar, yakni sebesar 30,40 persen (mtm) pada bulan Oktober tahun ini. Ada beberapa komoditas yang mendorong naiknya kinerja ekspor Indonesia di bulan ini, yakni batu bara, minyak, baja, dan besi.

"Ini adalah konsekuensi dari pembangunan smelter yang mengolah hasil tambang menjadi produk turunan," tambah Faisal.

Faisal juga menyebutkan, bahwa ke depan impor memiliki kecenderungan meningkat, seiring dengan adanya pelonggaran aturan PPKM yang pada dua bulan terakhir di tahun ini. Selain itu, peningkatan impor kemungkinan masih akan lebih rendah daripada ekspor. Pemicu dari hal tersebut adalah harga komoditas yang tinggi.