freightsight
Rabu, 28 September 2022

PELABUHAN

Dibutuhkan Kebijakan Komprehensif Agar Bisa Menurunkan Biaya Peti Kemas

10 Desember 2021

|

Penulis :

Tim FreightSight

Pelabuhan container

Cargo Containers in a Port © Jo Kassis via Pexels

• Diperlukan sebuah kebijakan yang komprehensif untuk bisa menjawab permasalahan penurunan biaya peti kemas dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok.

• Di sisi lain, untuk sisi pengusaha truk, mereka menghadapi mahalnya biaya ekspor.

Sampai saat ini Indonesia masih mengalami kenaikan biaya kontainer dengan jumlah yang sangat tinggi. Untuk bisa memecahkan permasalahan tersebut, maka diperlukan sebuah kebijakan yang komprehensif untuk bisa menjawab permasalahan penurunan biaya peti kemas dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok, sejalan dengan rencana Pelindo yang akan menaikkan tarif PAS di Januari 2022 mendatang.

“Solusinya mestinya dipikirkan sebuah kebijakan yang komprehensif. Misalnya para pengusaha truk diberikan prioritas masuk tol. Kemudian tarif tol beda pada masa recovery. Sehingga nggak harus bersaing dengan kendaraan kecil di ruas jalan non tol,” ujar Head of Economic Research Samudera Indonesia, Ibrahim Kholilul Rohman, Minggu (5/12/2021).

Selain itu, menurutnya juga perlu diadakan perhitungan, dan kajian yang mendalam terhadap kenaikan biaya PAS di pelabuhan terhadap kinerja keseluruhan logistik. Ia menilai bahwa kenaikan tarif PAS nantinya tidak hanya akan memengaruhi peningkatan di pelabuhan, namun juga pada semua sektor ekosistem logistik.

Karena itu, bisa dikatakan bahwa isu kenaikan tarif PAS memang tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi saja. Dari sisi operator pelabuhan, kondisi kenaikan tarif PAS akan membuat mereka memerlukan peningkatan infrastruktur dan perbaikan fasilitas pelabuhan. Karena itu, tarif PAS juga diperlukan agar nantinya ada pembiayaan dari Pelindo untuk bisa menutupi biaya yang telah dikucurkan.

Di sisi lain, untuk sisi pengusaha truk, mereka menghadapi mahalnya biaya ekspor dan adanya kargo baru mulai rebound. Ia membeberkan bahwa secara volume pada kuartal III/2021 sektor ini hanya tercatat tumbuh sebesar 3 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Tidak bisa dipungkiri bahwa mahalnya biaya ekspor yang saat ini ada juga dipengaruhi oleh mahalnya biaya keluar masuk pelabuhan di Jakarta, jika dibandingkan dengan negara lain.

“Kondisinya, jalur komersial atau non komersial ke arah kota Tanjung Priok adalah truk kontainer bersaing dengan mobil pribadi maupun barang yang lain sehingga ritase harian truk di Indonesia secara rata-rata juga lebih rendah dibandingkan dengan pelabuhan di negara tetangga, Malaysia dan Singapura,” imbuhnya.