freightsight
Sabtu, 1 Oktober 2022

INFO INDUSTRI

Di Masa COVID-19, China Keluar Sebagai Pemenang Mutlak

2 November 2021

|

Penulis :

Abdu Rauf

Bangunan di kota China

Brown Temple during Nighttime © WuYi via Unsplash

Saat kabar pertama kali tersebar tentang lockdown di Wuhan, sebagian besar orang di dunia termasuk para ahli mengira bahwa perekonomian China akan lumpuh. Ini karena China merupakan mesin perdagangan global, dan hal itu akan memperburuk industri pelayaran/pengiriman.

Namun tidak disangka setelah 18 bulan dan 3,9 juta kematian, yang terjadi ternyata sebaliknya. Industri jasa pengiriman mengalami lonjakan drastis, negara dimana pertama kali virus menyerang justru mengalami kemajuan ekonomi yang luar biasa.

Bisnis ekspor China sekarang lebih besar dibandingkan sebelum virus menyerang, karena berbagai perubahan yang disebabkan pandemi yang mempengaruhi perilaku konsumen dan stimulus fiskal akibat COVID-19 dari pemerintah dunia.

Satu-satunya negara dengan kenaikan ekonomi yang tumbuh secara drastis di tahun 2020 ialah China; pertumbuhan GDP (Gross Domestic Product) atau PDB (Produk Domestik Bruto) terus tumbuh di kuarter pertama tahun 2021. Bisnis di segala lini di China mengalami kenaikan termasuk dalam hal galangan kapal, operator, dan pabrik peralatan kontainer.

Permintaan Amerika Serikat akan ekspor dari China mengalami kenaikan yang tinggi. Perdagangan telah melaju ke arah yang berlawanan pula dimana China kini lebih banyak membeli hal-hal seperti kedelai, minyak mentah, propane, dan gas alam ke Amerika.

Situasi dengan perdagangan di China

Nerijus Poskus, wakil presiden dari Samudera Global di Flexport mengatakan ‘’Dulu pada tahun 2020, jika kamu bertanya 100 ahli ekonomi apa yang akan terjadi ketika China pertama kali menyerang China, semuanya kemungkinan besar akan menjawab bahwa perekonomian akan menurun, pemakaian akan menurun dan harga pengiriman barang akan jatuh. Namun, ternyata mereka semua salah’’.

Kenyataannya, Nilai ekspor China di Januari-Mei rata-rata mencapai $247,5 miliar per bulan, naik hingga 29% dari Januari-Mei 2019 sebelum COVID-19 terjadi, menurut data bea cukai China.

Sementara semakin banyak barang keluar, mendukung permintaan pengiriman kontainer, semakin banyak bahan mentah dan komoditi yang masuk, juga tank yang beroperasi, dan kargo serta pengangkut gas. Nilai impor China rata-rata yaitu $206.8 miliar per bulan di Januari-Mei, naik hingga 25% dari periode yang sama di tahun 2019.

Dinamika perdagangan dan bisnis yang menjanjikan

Situasi dengan COVID-19 ini memicu kenaikan permintaan transportasi jalur laut sehingga berimbas pada sektor lainnya yang berkaitan seperti pembangunan fasilitas shipping, pembuatan kontainer, dan operasi pelayaran global. Namun, Amerika Serikat tidak memiliki peran yang signifikan dalam sektor-sektor tersebut. Sampai saat ini, China masih memimpin dalam semua sektor tersebut.

Per 1 Januari 2020, pra-COVID-19, galangan kapal China mendapat pesanan komersial dengan total 29.8 juta ton kompensasi bruto, menurut valuasi Inggris dan penyedia data VesselsValue. Pada poin ini, China yang telah menjadi negara pembangunan shipping terbesar di dunia mencatat 38.7% dari total pesanan global.

Catatan pesanan China yaitu 26.9 juta per Kamis, menurut VesselsValue. Meskipun itu merupakan penurunan dari pra-COVID-19 (pesanan menurun di dunia di kuarter pertama hingga ketiga dan setengah periode setelahnya), namun bagian China dalam catatan pesanan global sekarang sudah 40.5%, bahkan lebih tinggi dibanding dengan era sebelum pandemi.

China juga mendominasi dalam sektor pembuatan peralatan kontainer. Hampir seluruhan kontainer di dunia dibuat di China. Pabrik-pabrik China memproduksi 2.66 juta unit kontainer yang setara dengan ukuran 20 kaki. Di lima bulan pertama tahun ini, menurut data dari konsultan bermarkas di Inggris, Drewry.

‘’Saya akan sangat terkejut jika 5 juta unit kontainer berukuran 20 kaki tidak dicapai di tahun 2021’’, komentar John Fossey, kepala riset peralatan kontainer dan leasing. Catatan rekor sebelumnya yaitu 4.42 juta unit kontainer di tahun 2018. Jika 5 unit kontainer di produksi tahun ini, hal itu akan mewakili 61% kenaikan dibandingkan dengan tahun lalu dan kenaikan 77% dibanding di tahun 2019.

Dalam sektor pelayaran, perusahaan COSCO China (termasuk OOCL) merupakan perusahaan kontainer terbesar keempat dunia, dengan kapasitas armada 3 juta unit kontainer berukuran 20 kaki. Sama seperti pengangkut jalur air lainnya, COSCO memetik profit bersejarah di masa COVID-19 dalam hal kenaikan permintaan konsumen. Divisi pengiriman COSCO mengumumkan profit yang mencapai $2.7 juta untuk kuarter pertama tahun 2021, lebih dari yang mereka hasilkan di keseluruhan tahun lalu.

Menurut data dari IHS Markit, perusahaan COSCO memiliki andil yang lebih besar dalam impor kontainer Asia ke Amerika di Januari hingga April dibanding pemilik pelayaran lainnya, menghasilkan 16.9 % volume inbound, sedikit diatas saham pasar Trans-Pasifik mereka di periode yang sama tahun 2019.

China sekarang merupakan negara pemilik bisnis pengiriman terbesar kedua di dunia, di belakang Jepang, menurut VesselsValue. Selama pandemi, China menyusul Yunani, dan naik dari posisi ketiga.

Sektor import dari China

Nilai impor barang Amerika Serikat dari China rata-rata yaitu sekitar $37.7 miliar per bulan di Januari-April, naik hingga 8% dari periode yang sama di tahun 2019, sebelum COVID-19.

Untuk mengestimasi importer Amerika Serikat ke China, American Shipper telah menganalisa data Biro Sensus pada lima kategori impor dari pengangkutan China dengan kontainer; komputer dan produk elektronik, peralatan elektris dan perkakas, furnitur dan peralatan tetap, pakaian dan aksesoris, dan aneka komoditas pabrikan.

Nilai gabungan impor dari semua kategori tersebut naik 10% pada bulan Januari-April dibanding pada periode yang sama di tahun 2019. Segmen komputer/elektronik yang merupakan kategori terbesar dari kelima kategori dilihat dari nilainya naik hingga 10%, segmen peralatan elektrik 17%, dan segmen aneka komoditas pabrik 40%. sedangkan segmen furnitur turun sebesar 11%, dan segmen pakaian turun juga sebesar 29%.

Terlepas dari semua pembicaraan seputar diversifikasi rantai pasokan selama bertahun-tahun, China masih menjadi sumber utama bagi Amerika dalam memperoleh berbagai kebutuhannya. Pada Januari-April, saham rata-rata China pada nilai total impor Amerika dalam segmen furnitur sebesar 37%, komputer 35%, peralatan elektrik 33%, aneka komoditas pabrik 33%. dan pakaian 22%.

Ketergantungan importir Amerika terhadap China menghadapi masalah baru. Adanya virus yang menyerang berbagai operasi di pelabuhan China, Yantian dan pelabuhan-pelabuhan sekitarnya di bulan Juni berdampak besar terhadap laju perdagangan untuk maju. Yantian dan pelabuhan-pelabuhan sekitarnya menangani sekitar seperempat ekspor dengan penggunaan kontainer ke Amerika.

Terganggunya jalur pengiriman di pelabuhan Yantian akibat pandemi ini mengakibatkan penurunan jumlah pelayaran, dan diprediksi bahwa pemulihan akan membutuhkan waktu selama berbulan-bulan. Meski begitu ternyata volume pengiriman sampai saat ini terus meningkat dan dibutuhkan solusi dan antisipasi yang tepat untuk memastikan industri pengiriman yang tetap lancar.

Komoditas ekspor Amerika ke China pulih di masa pandemi

Sempat terjadi kekacauan administratif di bawah kepemimpinan Trump yang mempengaruhi sektor ekspor Amerika. Namun China melawan balik dengan mengurangi pembelian produk-produk pertanian Amerika serta komoditas energi seperti metan, gas alam cair, dan minyak mentah. Namun, China membeli lebih banyak produk-produk ekspor Amerika.

China memiliki peranan besar sebagai pembeli dalam pasar kedelai. Ekspor kedelai Amerika ke China jatuh di tahun 2018 karena adanya dampak politik perdagangan dan flu babi Afrika terhadap populasi babi di China (kedelai digunakan sebagai pakan babi).

Data dari Departemen Pertanian Amerika Serikat menunjukkan bahwa pembelian China terhadap kedelai kembali pulih di tahun 2020, dimana 54% ekspor kedelai Amerika ditujukan ke China. Total ekspor Amerika Serikat naik mencapai rekor 64.1 juta ton kubik tahun lalu. Pembelian China berlangsung di tahun ini, dimana negara ini membawa 47% pada kuarter pertama tahun 2021 atas volume ekspor Amerika.

Ekspor kedelai Amerika ke China telah membantu mendorong angka untuk pengiriman produk kering dalam kelas Panamax (pengangkut dengan kapasitas 65,000 -90,000 ton) tertinggi selama dekade ini.

Gas metan/propane - Di pasar kapal pengangkut, China merupakan destinasi penting untuk komoditas propane. Gas metan ini dikirimkan dalam bentuk 84,000 meter kubik gas petroleum yang dicairkan menggunakan pengangkut dan digunakan oleh China untuk penggunaan rumah tangga dan sebagai bahan untuk pembuatan plastik.

Penjualan propane Amerika ke China menurun drastis di tahun 2019 selama konflik politik. Namun di tahun 2020 penuh dan kuarter pertama 2021, China kembali ke pasar, mengambil 10% dari ekspor propane jalur laut, menurut data yang diperoleh dari EIA (Energy information Administration) atau lembaga penyedia informasi seputar energi (bahan bakar).

LNG - China mengambil alih Jepang tahun kemarin untuk menjadi importir terbesar dunia untuk LNG. China berhenti membeli LNG Amerika di tahun 2019 selama adanya ketegangan dalam dunia perdagangan, namun berkontribusi dalam ekspor LNG Amerika tahun lalu sebesar 9%. Di kuarter pertama 2021, 8% ekspor Amerika bertujuan ke China, menurut data EIA.

Minyak mentah - Impor China dari Amerika memainkan peranan penting dalam pengiriman dengan menggunakan kapal tangki yang masuk dalam kategori VLCC (tangki yang mampu memuat 2 juta barrel/tong minyak). Permintaan VLCC diukur dengan mengalikan berdasarkan jarak. Jarak tempuh layar dari teluk Amerika ke China lebih dari dua kali lipat jarak dari Timur Tengah ke China. Sehingga, semakin sering China impor dari Amerika dan bukannya dari Timur Tengah, semakin bagus tarifnya untuk VLCC.

China juga berkontribusi atas 5% volume pengiriman ekspor Amerika di tahun 2019, pada puncak perang perdagangan. Saham mereka naik kembali sebesar 17% di tahun 2021 dan 13% di kuarter pertama 2021, menurut data dari EIA.

Kondisi neraca perdagangan sebelum dan semasa COVID-19

Secara keseluruhan, ekspor barang ke China rata-rata senilai 11.6% miliar per bulan pada Januari-April, naik 38% dari periode yang sama di tahun 2019.

Neraca perdagangan Amerika-China rata-rata $26.1 miliar di empat bulan pertama tahun ini - sedikit lebih baik dari periode Januari-April 2019, pra-COVID-19-19, dikarenakan ekspor Amerika yang lebih tinggi.

Efektifitas bea cukai yang diberlakukan sebelum dan semasa pemerintahan Trump belum dikembalikan lagi oleh Presiden Joe Biden dimana neraca perdagangan barang rata-rata $25.5 miliar pada bulan Januari-April 2016. Sedangkan, di periode yang sama tahun ini, dimana pemerintahan Trump sudah berakhir, neraca 2% lebih tinggi, unggul atas ekspor China ke Amerika.