freightsight
Sabtu, 1 Oktober 2022

PENGIRIMAN LAUT

Disrupsi Rantai Pasokan Diprediksi Akan Berdampak Pada Industri Pengiriman Hingga Natal Tahun Ini

1 November 2021

|

Penulis :

Abdu Rauf

Pelabuhan Yantian

Port view © Nilantha Ilangam via Unsplash

Industri pengiriman dan pelayaran memang mengalami banyak gangguan seiring dengan terjadinya pandemi COVID-19 yang sampai saat ini belum juga bisa dikendalikan sepenuhnya. Beberapa insiden besar terjadi pada satu setengah tahun terakhir ini diantaranya terminal pelabuhan Yantian yang mengalami kemacetan total, hingga kapal Ever Given yang terjebak di kanal Suez yang menyebabkan kemacetan kapal pengangkut kontainer secara besar-besaran. Dan saat ini, banyak pengamatan yang mewanti-wanti para pelaku industri pengiriman untuk siaga terhadap potensi dampak yang masih akan terus berlanjut hingga musim natal.

Saat ini, terminal pelabuhan Yantian sudah beroperasi 100% dan telah pulih. Setiap harinya pelabuhan ini menangani pengiriman sekitar 40,000 teu. Namun, diprediksi bahwa dampak karantina COVID-19 di Cina masih tetap akan berlanjut bahkan dampaknya ini dikatakan masih lebih besar dibanding dengan kemacetan rantai pasok yang terjadi karena terjebaknya kapal Ever Given di kanal Suez. Hal ini bukanlah sekedar prediksi namun dikalkulasikan berdasarkan data.

Meskipun saat ini terminal pelabuhan Yantian sudah pulih namun dampak disrupsi memang masih dirasakan oleh industri pelayaran dunia. Bahkan saat ini masih banyak pabrik-pabrik yang menunda proses produksi karena kekurangan lahan untuk menyalurkan rantai pasokan untuk beberapa bulan mendatang.

Saat ini kargo-kargo memang sudah mulai bergerak kembali ke berbagai terminal pelabuhan dunia namun karena insiden pandemi sejak tahun lalu ini tidaklah kecil, maka dampak yang ditimbulkan membutuhkan waktu yang lama untuk diatasi. Bahkan dampak lanjutan yang terjadi justru lebih buruk dari dampak awal yang timbul. Efek gelombang disrupsi pada industri perkapalan ini terjadi tidak hanya di satu tempat tapi di berbagai pelabuhan di seluruh dunia. Sehingga menjadi masalah yang tidak mudah untuk dipecahkan.

Berbagai masalah muncul di setiap pelabuhan misalnya saja di Eropa dimana banyak kapal dari Asia yang tertunda perjalanannya hingga tiga minggu lamanya. Bahkan tidak sedikit carrier yang memutuskan untuk tidak melewati beberapa pelabuhan untuk dijadikan sebagai lokasi pemberhentian dan hal ini tentunya berdampak pada para shipper. Banyak dari shipper yang keberatan dengan keputusan carrier ini karena beberapa diantara pelabuhan yang di-skip oleh carrier mungkin saja merupakan tujuan kargo para shipper.

Contohnya saja terjadi pada carrier 2M yang menyatakan bahwa mereka tidak akan berhenti di pelabuhan Rotterdam dalam ekspedisi mereka di jalur Asia-Eropa Utara untuk 7 minggu kedepan ini. Hal ini juga diikuti oleh carrier lain The Alliance. Sementara, carrier lain seperti Maersk dan MSC kabarnya tidak akan melewati pelabuhan Hamburg untuk ekspedisi mereka selama 4 minggu ke depan dikarenakan kemacetan yang masih terjadi.