freightsight
Minggu, 4 Desember 2022

DOMESTIK

Apindo Khawatir Resesi Global 2023 Ancam Stabilitas Investasi dan Perdagangan RI

30 September 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

Ilustrasi Resesi Global via .rctiplus.id

Apindo melihat stabilisasi ekonomi dalam negeri bisa terganggu jika resesi global terjadi pada tahun depan. Tekanan ini tak hanya berimbas terhadap lalu-lintas impor, tapi juga produktivitas perekonomian.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani melihat stabilisasi ekonomi dalam negeri bisa terganggu jika resesi global terjadi pada tahun depan. Tekanan ini tak hanya berimbas terhadap lalu-lintas impor, tapi juga produktivitas perekonomian. “Karena resesi global yang diproyeksikan terjadi di 2023 akan dialami oleh sebagian besar ekonomi dunia mulai Amerika Serikat, Uni Eropa, hingga Cina-Jepang, yang semuanya adalah rekan dagang dan investasi besar untuk Indonesia,” ujar dia pada Selasa, (27/9/2022).

Meskipun secara analisis ekonomi risiko Indonesia untuk mengalami krisis yang sama cukup rendah, kata Shinta, stabilisasi dan produktivitas perekonomian akan terkena dampak negatif. Efek inflasi yang di atas rata-rata pada tahun ini juga akan menciptakan tekanan terhadap beban biaya usaha dan tekanan terhadap daya beli masyarakat pada 2023.

Tekanan-tekanan tersebut, Shinta melanjutkan, akan dirasakan oleh semua sektor ekonomi. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi nasional khususnya untuk industri serta usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM akan melambat.
“Di sisi lain, krisis yang diproyeksikan terjadi di 2023 juga akan menekan produktifitas ekspor, khususnya produk manufaktur dan produk bernilai tambah yang sifatnya ‘consumer goods’ yang biasa kita ekspor ke negara-negara yang diproyeksikan mengalami krisis,” ucap Shinta.

Dia menilai hal itu akan semakin menjadi beban tambahan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. “Ini pun dengan asumsi kita bisa menjaga stabilitas makro ekonomi nasional sepanjang krisis global di 2023,” tutur Shinta.
Sementara itu, ekonom senior Center Of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan Indonesia berpeluang terkena dampak resesi global pada 2023 meski spektrumnya kecil.

“Karena kalau kita melihat dari kinerja perekonomian, juga data-data utama seperti penjualan ritel, kemudian keyakinan konsumen dan juga indeks PMI manufaktur masih menunjukkan trend yang relatif baik setidaknya sampai dengan data terakhir,” ujar dia saat dihubungi pada Selasa (27/9/2022).

Namun, kata Yusuf, ada beberapa kondisi yang tetap perlu diwaspadai. Misalnhya, melambatnya rantai komoditas. Dengan menurunnya kinerja perekonomian negara-negara besar, permintaan terhadap produk-produk komoditas berpeluang melandai atau berkurang sehingga mempengaruhi harga. Ia melanjutkan, bagi Indonesia yang masih mengandalkan komoditas sebagai penggerak perekonomian, persoalan resesi bukan kabar yang baik. Terganggunya harga komoditas juga akan memperlambat kinerja penerimaan negara.

“Sehingga dengan melambatnya harga komoditas tentu peluang kinerja ekspor 2023 akan tertekan menjadi semakin besar. Di sisi lain, penerimaan negara yang bersumber dari komunitas juga berpeluang melandai pertumbuhannya jika dibandingkan dengan kinerja pertumbuhan di tahun ini,” tutur Yusuf.

Selain itu, Yusuf juga menuturkan dampak resesi pun akan mempengaruhi kinerja sektor usaha. Apalagi, sektor usaha yang pangsa pasarnya bergantung dengan perdagangan global. Dia mencontohkan industri CPO dan produk turunannya. Jika harga komoditas ini melandai, kinerja dari subsektor lapangan usaha itu akan ikut terimbas. Contoh lain, kinerja sektor pertambangan juga diproyeksikan akan terkena dampak. Sebab, harga dari produk-produk pertambangan berpotensi tidak akan setinggi tahun ini.

“Namun dengan asumsi mobilitas penduduk di tahun depan tidak lagi terpengaruh dengan adanya covid-19. Tentu beberapa sektor yang tadinya menggantungkan penjualan ataupun kinerja mereka dari pangsa pasar global bisa melakukan switch ke pangsa pasar domestik,” ucap Yusuf.