freightsight
Sabtu, 1 Oktober 2022

TEKNOLOGI

Apakah Digitalisasi Bisa Menjadi Kunci Untuk Mengatasi Kemacetan di Pelabuhan Asia Tenggara?

2 November 2021

|

Penulis :

Abdu Rauf

Futuristic Smart City © Rawpixels via Freepik

Carrier mencari solusi digital baru untuk memperbaiki logistik pangkalan kontainer carrier di tengah-tengah kemacetan di pelabuhan Asia Tenggara.

Situasi di pelabuhan Yantian kini semakin membaik, namun masih terjadi penundaan jadwal dan timbunan kargo dan hal ini bisa memakan waktu berminggu-minggu sebelum bisa teratasi sepenuhnya. Berbagai laporan juga bermunculan minggu ini tentang kemacetan yang baru saja terjadi di Singapura.

CMA, CGM, dan COSCO yang merupakan anggota Ocean Alliance masing-masing merencanakan untuk melewati panggilan yang telah dijadwalkan pada pusat pengiriman utama.

Di Asia Tenggara, berbagai gerbang masuk seperti Laem Chabang milik Thailand juga menghadapi krisis dengan adanya kekacauan jadwal pengiriman/pelayaran. Ditambah dengan kemacetan yang terjadi di China, semua hal tersebut menaruh tekanan yang besar akan kelangkaan kontainer kosong.

Alvin Ea yang merupakan co-founder dan CEO sebuah startup di Singapura bernama Haulio mengatakan bahwa kebutuhan akan pangkalan logistik kontainer yang efisien serta waktu parkir truk pengantar yang cepat tidak pernah semendesak ini.

Dia mengatakan bahwa seiring dengan pelabuhan yang harus merelokasi sumber-sumber untuk mengesampingkan berbagai aktivitas untuk mengurangi waktu tunggu kontainer dan waktu putar balik kapal, Singapura telah mengalami kenaikan permintaan akan biaya pengangkutan antar terminal.

Didirikan tahun 2017, Haulio mengoperasikan platform digital penarikan tarif pengangkutan dengan kontainer untuk kilometer pertama perjalanan antara pelabuhan dan gudang pelanggan, menaikkan hingga 90% jumlahnya pada platform. Pada awalnya, perusahaan ini hanya beroperasi di Singapura, namun Haulio melebarkan sayapnya ke Thailand tahun lalu, menarik CMA dan CGM sebagai pelanggan mereka.

Di Thailand telah terjadi kekacauan akan pergerakan kontainer dari Terminal Laem Chabang ke Lat Krabang ICD yang disebabkan oleh jadwal yang tidak jelas. Hal ini memicu adanya kebutuhan pengangkut untuk menyatukan kapasitas dan volume yang lebih cocok dengan perjalanan pulang pergi. Inilah sesuatu yang Haulio Thailand tuju untuk memfasilitasi industri pengiriman secara digital.

Lebih jauh lagi, dia berkata bahwa kelangkaan kontainer dan jadwal yang tertunda baik di Singapura maupun Laem Chabang telah menyebabkan periode detensi casis yang lebih parah. Sehingga tarif angkutan lebih ketat dan yang terjadi adalah siklus kemacetan yang terus berlanjut; kemacetan di depot dan terminal juga meningkat sebagai dampaknya.

Oleh karena itu, memiliki pandangan yang lebih jelas akan prakiraan sumber daya dan manajemen diharapkan bisa mengatasi kemacetan. Ini karena informasi dan sumber daya yang dikumpulkan untuk memfasilitasi akan lebih memadai. Ea juga mengatakan bahwa solusi yang diberikan Haulio termasuk integrasi dengan sistem komunitas pelabuhan untuk memberikan informasi real-time pada jadwal labuh kapal, termasuk pelacakan langsung kontainer di luar pelabuhan.

Menurut Laem, akan sangat membantu jika stakeholders mengimplementasikan ‘reuse’ dan ‘exchange’ dalam penggunaan kontainer dengan menyediakan data untuk memfasilitasi kolaborasi berbagai platform digital di seluruh daerah, termasuk Avantida dan Matchbox Exchange. Inovasi seperti ini tidak hanya mengurangi emisi karbon, namun juga kebutuhan akan antrean lancar di depot, yang bisa mengatasi kemacetan pada rantai pelabuhan.

Penggunaan platform digital untuk industri pelayaran dan pengiriman dianggap bisa mempermudah proses operasional dan meminimalisir resiko kemacetan yang saat ini banyak terjadi di berbagai pelabuhan dunia, khususnya di Asia Tenggara. Dan Singapura telah membuktikan betapa inovasi teknologi bisa berkontribusi dalam mencari solusi yang paling efisien untuk berbagai permasalahan seputar industri pelayaran.