freightsight
Senin, 27 Mei 2024

INFO INDUSTRI

Ancaman El Nino, Kementan Optimistis Produksi Padi Dalam Negeri Tetap Aman

7 Agustus 2023

|

Penulis :

Tim FreightSight

Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi menyatakan fenomena El Nino di Indonesia tidak mengganggu produksi padi dan beras petani.

Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi menyatakan fenomena El Nino di Indonesia tidak mengganggu produksi padi dan beras petani.
Dengan begitu ia menyebut ketersediaan dan harga pangan di masyarakat masih terjaga stabil.

"Saat ini kita mengalami kekurangan air, tapi Alhamdulillah kita masih bisa panen," kata Harvick Hasnul Qolbi seperti dikutip dari Antara, Sabtu (5/8/2023).

Wamentan menyatakan El Nino belum berdampak terhadap produksi beras petani di Indonesia setelah ia melakukan kunjungan kerja ke beberapa daerah penghasil padi terbesar.

Terakhir pada Jumat (4/8/2023), ia menyaksikan panen padi sawah sawah di Dusun Petaling Jaya Kabupaten Bangka Barat.

"Hasil survei kami setiap daerah, bahwa produksi beras kita tidak terganggu karena petani masih panen meski mengalami kekurangan air untuk pertaniannya," ujarnya.

Menurut Harvick, saat ini banyak permasalahan yang dihadapi oleh para petani di Tanah Air, di antaranya lahan pertanian kekurangan air sebagai dampak perubahan iklim El Nino.

Ia menyarankan para petani agar melakukan inovasi dan melakukan alih fungsi lahan supaya berhasil menghadapi tantangan dampak dari El Nino ini.

"Kami mengajak petani untuk terus berinovasi dalam mengelola lahan pertanian, guna membantu pemerintah dalam menjaga stabilitas stok dan harga pangan selama tahun politik ini," tambah Harvick.
Sebelumnya, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi menyebutkan stok beras dan gula pasir masih dalam kondisi aman karena berada di atas kebutuhan per bulan.

Adapun stok gula pasir tercatat sebanyak 151.374,64 ton dengan total kebutuhan 283.331 ton per bulan.

Sementara stok beras saat ini sudah mencapai 806,682 ton. Dari jumlah tersebut, stok beras yang dimiliki Bulog secara total sebanyak 806,344 ton, yang terdiri dari Cadangan Beras Pemerintah 747,219 ton dan komersial 59,125 ton. Sedangkan stok milik ID Food sebanyak 338 ton.

Sementara itu Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia atau Gapmmi memprediksi harga semua komoditas pangan yang masih bergantung terhadap impor akan naik lantaran imbas adanya fenomena cuaca buruk El Nino yang akan terjadi pada Agustus hingga September 2023.

Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman mengatakan hal itu karena beberapa negara sudah memutuskan untuk melarang ekspor bahan pangannya guna mengantisipasi kekeringan dampak adanya cuaca ekstrem El Nino.

"Menurut saya El Nino ini harus diwaspadai, karena paling tidak akan mempengaruhi kenaikan harga kalau suplainya berkurang, karena produksi pangan kita juga tidak cukup, jadi bisa bahaya. Apalagi negara yang masih ketergantungan impor," ujar Adhi pada Rabu (2/7/2023).

Dia menyebutkan, adapun komoditas pangan yang dipastikan terkerek imbas adanya El Nino yaitu gula, kedelai, beras dan daging sapi. Hal ini lantaran empat komoditas pangan tersebut masih sangat bergantung terhadap impor. Apalagi, India sebagai negara pengimpor beras terbesar oleh Indonesia sudah memutuskan untuk menyetop ekspor berasnya.

"Pokoknya produk yang sering diimpor oleh Indonesia akan naik harganya, untuk presentasi kenaikan saya belum tau berapanya, tapi kalau gula akan naik 10%," kata dia.

Lebih jauh ia mengatakan harga gula industri diperkiraan Rp 12.000 - Rp 13.000. Untuk itu, saat ini pengusaha industri makanan dan minuman sebagian telah mengganti gula untuk produk maminnya dengan stevia.

Sebagai informasi, negara-negara di seluruh dunia sedang berjuang melawan gelombang panas dan banjir yang dipicu oleh El Nino. Organisasi Meteorologi Dunia menyatakan fenomena ini memiliki kemungkinan hingga 90% untuk bertahan di paruh kedua tahun 2023. El Nino akan berdampak pada seluruh negara di dunia.

Indonesia tidak termasuk dalam 10 besar negara paling rentan terhadap El Nino, namun dampaknya tetap akan terasa. Salah satunya adalah pengurangan produksi pangan dan juga kenaikan harga komoditas impor.