freightsight
Selasa, 5 Juli 2022

IMPOR

RI Bebas Impor Beras 3 Tahun, Pengamat: Bukti Kerja Pemerintah

23 Mei 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

Impor Beras

Impor Beras via portonews.com

Presiden Jokowi sebelumnya mengatakan, Indonesia sudah tidak impor beras selama tiga tahun terakhir. Dia berharap, capaian itu dapat dipertahakan dan bahkan ditingkatkan dengan menggenjot produktivitas dalam negeri.

Produksi pertanian dalam negeri yang meningkat dan positif membuat Indonesia tercatat tidak melakukan impor beras selama tiga tahun terakhir. Pemerhati pangan Irma Suryani Chaniago memberikan apresiasi atas kerja cerdas Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) yang mampu menjalankan semua arahan dan perintah Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Ini yang bisa disebut kerja cerdas. Tidak impor kan artinya kerja berintegritas. Tidak macam-macam dan hanya fokus kerja. Saya rasa ini perlu diapresiasi,” kata Irma pada Minggu (22/5/2022).

Menurutnya, sektor pertanian sejauh ini adalah kunci sekaligus bantalan utama dari perekonomian Indonesia. Hal ini terbukti bahwa selama pandemi, Pertanian tetap menuai hasil yang cukup moncer,

“Semua negara babak belur karena pendemi. Belum lagi adanya perang Rusia dan Ukraina. Bahkan kita dihantam PMK. Tapi semua tetap terkendali, pangan dalam negeri aman, puasa dan lebaran berjalan lancar,” jelasnya.

Irma juga menyebutkan, bahwa pertanian di bawah pimpinan Syahrul Yasin Limpo terus menunjukkan perbaikan ekspor. Kemudian perbaikan Nilai Tukar Petani yang mengindikasikan meningkatnya kesejahteraan petani.

“Saya percaya pak SYL bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik. Bahkan melebihi target yang sudah ditentukan. Tentu luar biasa cerdas,” pujinya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyatakan, selama tiga tahun terakhir ini Indonesia sudah tidak mengimpor beras. Setelah sebelumnya impor 1,5-2 juta ton beras setiap tahunnya. Dia berharap, torehan tersebut bisa tetap dipertahankan bahkan ditingkatkan dengan terus menggenjot produktivitas pertanian beras dalam negeri.

“Yang sebelumnya kita impor 1,5 juta sampai 2 juta ton per tahun, kali ini sudah 3 tahun tidak impor. Ini yang harus dipertahankan, syukur bisa menambah stok. Itu artinya, produktivitas petani harus ditingkatkan,” jelasnya.

Sebelumnya, Peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, Riyanto, pada Minggu 22 Mei 2022 mengatakan Kementan berhasil mengendalikan impor beras dan cenderung surplus.

“Biasanya Indonesia impor beras, tapi di zaman Syahrul Yasin Limpo (SYL) saya melihat kebutuhan beras kita cukup, bahkan cenderung surplus,” kata Riyanto.

Menurutnya, Mentan SYL berhasil mengendalikan impor dalam waktu tiga tahun terakhir. Riyanto menyebutkan, pertanian merupakan sektor strategis dalam mewujudkan Indonesia berdaulat dari aspek apapun, termasuk keamanan dan ketertiban. Tanpa pangan semua orang akan bingung dan negara bisa bangkrut.

“Saya kira posisi Indonesia sudah cukup bagus dan berjalan lebih cepat dari biasanya. Pangan kita sudah cukup dan bisa dikendalikan,” ujar Riyanto.

Dia menambahkan, inilah yang disebut dengan bukti kerja pemerintah di sektor pertanian. Selain Mentan SYL, semua juga bisa terjadi berkat arahan dan perintah Presiden Jokowi.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus Tauhid menyampaikan terimakasih atas kinerja dan perhatian Mentan SYL terhadap pembangunan pertanian nasional, khususnya pertanian di wilayah Banten.

Provinsi Banten, kata dia, berhasi menunjukkan kinerja peningkatan produksi padi yang jauh lebih baik, bahkan menempati posisi 3 besar dalam delta produksi padi nasional. Kemajuan sektor pertanian Indonesia menurutnya sangatah pesat sehingga produksi dan kesejahteraan pertanian kian meningkat.

“Saya yakin dan optimis pertanian di bawah arahan Bapak Presiden dan Pak Menteri SYL bisa mendorong Indonesia jadi lebih maju sebagai negara berkembang. Pertanian kiat akan lebih hebat, maju, mandiri dan modern,” sebutnya.

Presiden Jokowi sebelumnya mengatakan, Indonesia sudah tidak impor beras selama tiga tahun terakhir. Dia berharap, capaian itu dapat dipertahakan dan bahkan ditingkatkan dengan menggenjot produktivitas dalam negeri.