freightsight
Senin, 23 Mei 2022

EKSPOR

Produksi Stagnan, Pengusaha Sebut Pemerintah Tak Urusi Ekspor Kopi

13 Mei 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

Ekspor Kopi

Ilustrasi Biji Kopi via republika.co.id

Ketua Aeki Moelyono Soesilo menyebutkan, produktivitas kopi dalam negeri saat ini hanya berkisar 10-12 juta karung per tahun atau sebesar 774.600 ton. Menurutnya, dengan angka produksi seperti itu, peluang ekspor kopi Indonesia masih tergolong stagnan.

Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (Aeki) menganggap pemerintah hanya sebatas omong-kosong terkait program ekspor kopi ke mancanegara. Pasalnya proses hulu dari dukungan hingga produktivitas petani di lapangan masih sangat terbatas.

Ketua Aeki Moelyono Soesilo menyebutkan, produktivitas kopi dalam negeri saat ini hanya berkisar 10-12 juta karung per tahun atau sebesar 774.600 ton. Menurutnya, dengan angka produksi seperti itu, peluang ekspor kopi Indonesia masih tergolong stagnan.

"Pemerintah ingin menggalakkan ekspor kopi, tapi kita pengusaha kopi bingung kopinya dari mana. Pemerintah cuma gembar-gembor ekspor kopi tapi faktanya tidak diurusi. Misalnya tidak disediakan pupuk karena hanya untuk pertanian pangan. Masalah ini jadi kendala, ibaratnya kita disuruh gemuk, tapi tidak dikasih makan," kata Moelyono pada Kamis (12/5/2022).

Menurutnya, secara data ekspor kopi tahun ini memang meningkat. Tetapi sebetulnya capaian ekspor relatif sama.

"Kalau dibilang meningkat sih engga, tapi ekspornya jadi tertunda. Kontrak-kontrak karena barangnya pada 2021 sudah terlanjur berada di kapal dan kontainer, baru dikirim sekarang pada 2022," ungkapnya tanpa menyebutkan rincian lebih lanjut.

Namun, menilik data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor pertanian seperti kopi, teh, dan rempah-rempah dalam kode HS 09 pada periode Januari-Desember 2022 menunjukkan penurunan 7,09 persen dari segi volume menjadi 570.540 ton dari tahun sebelumnya 614.140 ton.

Meski masyarakat tengah menggandrungi kopi, Moelyono mengatakan, hal itu kadang berbeda dengan realitas di pasar global. Menurutnya, harga kopi global saat ini US$ 2.020 - US$ 20.80 per ton, yang mana tidak banyak kenaikan.

"Kondisi ini membuat petani kopi kurang bergairah menjaga kebunnya. Sekarang pun posisi Indonesia turun peringkat jadi nomor tiga kan," ucap Moelyono.

Sebagai informasi, saat ini Indonesia terancam kehilangan devisa negara yang berasal dari komoditas sawit akibat pemberlakuan larangan ekspor CPO oleh pemerintah sejak 28 April 2022. Padahal ekspor komoditas ini berkontribusi sebesar Rp 112,82 triliun bagi perekonomian negara sepanjang kuartal I 2022.

Sayangnya, belum ada komoditas perkebunan lain yang berpeluang menggantikan posisi sawit sebagai komoditas ekspor utama Indonesia.

Direktur Centre of Reform on Economics (Core) Indonesia Muhammad Faisal mengatakan, sebetulnya Indonesia memiliki komoditas perkebunan lain di samping kelapa sawit, sebut saja karet, kopi, kopra dan kakau. Hanya saja, saat ini produktivitasnya masih teramat rendah.

"Alokasi pendanaan terutama APBN pada komoditas kelapa sawit itu masih rendah. Jadi hal ini membuat sisi produktivitas di luar sawit tidak berkembang," terangnya.