freightsight
Rabu, 28 September 2022

INFO INDUSTRI

Menurut Bahlil Ekspor Indonesia Beberapa Tahun Lalu Sama Dengan Zaman VOC

25 November 2021

|

Penulis :

Tim FreightSight

Ekspor kapal kontainer

Kapal Kontainer © via Pixabay

• Bahlil Lahadalia selaku Menteri Investasi mengatakan bahwa, ekspor Indonesia beberapa tahun lalu diibaratkan mirip dengan zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

• Bahlil mengatakan Indonesia terus-menerus mengekspor bahan baku beberapa waktu lalu. Hal itu persis seperti yang dilakukan saat Indonesia masih dijajah oleh Belanda.

Bahlil Lahadalia selaku Menteri Investasi mengatakan bahwa, ekspor Indonesia beberapa tahun lalu diibaratkan mirip dengan zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Dulu dalam masa penjajahan belanda di Indonesia, VOC merupakan kongsi dagang terbesar demi menyatukan perdagangan rempah-rempah dari wilayah timur demi bisa memperkuat kedudukan mereka di Indonesia. Dalam catatan sejarah juga diketahui bahwa VOC adalah awal mula kedatangan belanda ke Indonesia dan menjadi awal penjajahan di Indonesia.

"Saya sedikit mengulas. Dulu Indonesia ekspor dengan jaman VOC itu beda-beda tipis," ungkap Bahlil dalam Economic Outlook 2022, Selasa (23/11).

Bahlil mengatakan Indonesia terus-menerus mengekspor bahan baku beberapa waktu lalu. Hal itu persis seperti yang dilakukan saat Indonesia masih dijajah oleh Belanda.

"Indonesia kirim bahan baku terus. Indonesia ada masa keemasan kayu, tapi apakah ada satu perusahaan (Indonesia) yang masuk 10 besar perusahaan kayu mebel? Tidak ada," papar Bahlil.

Kemudian Indonesia juga memiliki berbagai sumber alam melimpah yang lainnya, misalnya seperti tembaga. Hanya saja memang tidak ada industri dari hilirasisai tembaga pada beberapa tahun lalu.

"Indonesia tidak ada hilirisasi, sekarang kami bangun," imbuh Bahlil. Tidak hanya itu, kekayaan laut tentunya juga dimiliki oleh Indonesia, hanya saja pemerintah juga baru mulai bergegas membangun hilirisasi pada sektor perikanan.

"Sekarang kalau tidak ada hilirisasi, Indonesia kalah teknologi dengan Vietnam, Taiwan, Thailand. Indonesia punya bahan baku, tapi tidak hilirisasi, tidak paten," jelas Bahlil.

Kemudian, Indonesia juga memiliki kekayaan tambang lain seperti batu bara yang melimpah. Akan tetapi sangat disayangkan karena Indonesia lebih memilih untuk melakukan ekspor sampai ratusan juta ton batu bara pada beberapa tahun terakhir.

"Maka itu Indonesia tidak boleh kehilangan momentum. Arahan Pak Presiden jelas, segera lakukan hilirisasi sumber daya alam," terang Bahlil.

Ia melanjutkan bahwa saat ini Indonesia sudah memiliki kebijakan larangan lakukan ekspor nikel. Larangan ini dikeluarkan langsung oleh kementerian investasi ketika dulu masih menggunakan nama Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada tahun 2020 lalu.

"Saya ingin nikel dikelola di Indonesia. Kenapa? Karena 2030 Eropa dan Amerika, dan sebagian dunia itu 70 persen-80 persen mobil mereka sudah pakai mobil listrik," ucap Bahlil.

Sedangkan untuk 40 persen dari bahan baku mobil listrik sendiri adalah baterai. Yang mana salah satu bahan baku dari baterai tersebut adalah nikel.

"Ini kami lakukan, kami dorong Indonesia menjadi pemain baterai terbesar dunia yang punya ekosistem dari hulu ke hilir," jelas Bahlil.