freightsight
Rabu, 28 September 2022

INFO INDUSTRI

Keluhan Pengusaha Soal Keterbatasan Jumlah Kontainer Sampai Mahalnya Biaya Ekspor

18 November 2021

|

Penulis :

Tim FreightSight

Kontainer ekspor

Depot Containers © Tri Eptaroka Mardiana via Unspl...

Kebijakan pembatasan kontainer membuat para pengusaha eksportir Provinsi Lampung merasa keberatan.

Banyak pengsuaha membatalkan acara ekspor karena biaya yang terbilang sangat tinggi dan mencekik

Adanya kebijakan pembatasan jumlah kontainer, space kapal serta tingginya biaya ekspor, yang dilakukan oleh penyedia jasa transportasi barang ekspor, membuat para pengusaha eksportir provinsi Lampung mengeluh.

Ary Meizari Alfian, sebagai Ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengatakan, naiknya biaya ekspor barang bisa mencapai 500 persen dari biaya normal.

Ary mengatakan, karena tingginya biaya ekspor, banyak pengusaha yang membatalkan rencana ekspor mereka, walaupun sebelumnya banyak dari mereka yang telah memiliki kontrak ekspor tersebut.

“Para eksportir ini terkendala terkait dengan keterbatasan kontainer dan space kapal, dan harganya bukan meningkat tetapi berubah. Karena kalau meningkatkan 20 persen sampai 30 persen, tetapi kalau mencapai 500 persen itu kan berubah harga,” kata Ary, Selasa (16/11).

Ary menyebut, banyak perusahaan eksportir yang terpaksa membatalkan rencana ekspor karena biaya yang sangat tinggi tersebut, meski sebelumnya mereka sudah memiliki kontrak terkait ekspor.

“Mereka sudah kontrak tapi tidak bisa mereka penuhi karena selisih biayanya cukup signifikan. Kalau sebelum kontrak masih bisa dinegosiasikan untuk biaya peningkatan itu dibebankan kepada pembeli, tetapi yang sudah kontak tidak bisa. Akhirnya mereka fail dalam memenuhi kontrak yang ada,” ucapnya.

Ary mengatakan, bahwa sampai saat ini, pihaknya belum tahu mengenai sebab dari pembatasan kontainer yang mengakibatkan tingginya biaya ekspor barang, dan sekang pihaknya masih mencari tahu hal tersebut. Hal seperti ini semakin memprihatinkan semenjak enam bulan terakhir.

“Itu yang menjadi bentuk keprihatinan kita dan kita sedang berusaha untuk mencari tahu penyebabnya. Alasannya masih simpang siur ada yang berpikir karena kapal itu hanya satu arah, artinya keperluan ekspor impor nya tidak ada sehingga kapal itu membawa barang kosong. Apakah ini ada kaitan dengan perang dagang internasional, itu yang perlu kita cari tahu. Bahkan saya dapat informasi di Jakarta perubahan biaya sampai 1.000 persen,” bebernya.