freightsight
Jumat, 19 Juli 2024

TEKNOLOGI

Jadi Percontohan, Balikpapan Dorong Digitalisasi Pelabuhan Indonesia Timur

1 Agustus 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

Pelabuhan

Ilustrasi Pelabuhan Balikpapan via balikpapan.prok...

Pelindo menerapkan Go-Live Marine Operating System (MOS). Langkah itu meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan digitalisasi pelabuhan di Indonesia.

Era digitalisasi benar-benar dimanfaatkan oleh BUMN. Seperti PT Pelindo (Persero) yang menerapkan Go-Live Marine Operating System (MOS). Langkah itu meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan digitalisasi pelabuhan di Indonesia.

MOS digunakan sebagai perencana dalam optimalisasi dan penyesuaian keperluan kapal terhadap resource management, real time record pelayanan, status track dan tracing resources.

Aplikasi layanan pemanduan dan penundaan kapal itu telah digunakan di banyak negara maju, termasuk Singapura. Go-Live MOS dirancang sebagai langkah digitalisasi pelabuhan di Indonesia.

Secara resmi, dalam seremonial Rabu (28/7), Manajemen PT Pelindo (Persero) Regional 4 Cabang Balikpapan menyatakan, aplikasi MOS telah 100 persen dijalankan.

“MOS merupakan program nasional, yang akan diterapkan seluruh pelabuhan di Indonesia. Tahap awal dicanangkan untuk 10, dari 14 pelabuhan yang semula dijadwalkan, dan Balikpapan salah satunya,” ucap Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Balikpapan M Takwim Masuku, saat menghadiri acara.

Sejalan dengan era digitalisasi, MOS hadir untuk meningkatkan pelayanan dan menjadi lebih cepat. Itu sesuai harapan pemerintah, yakni pelayanan pelabuhan meningkat setiap saat. Serta agar aktivitas yang menjadi sumber pendapatan negara dilakukan secara digital.

Sebelum diresmikan, dilakukan uji coba. Dan selama masa uji coba, tak sedikit pengguna jasa yang melayangkan keluhan kepada KSOP Balikpapan. Keluhan tersebut diharapkan menjadi bahan untuk menyempurnakan layanan. Juga penting bagi Pelindo Balikpapan menyiapkan solusi saat sistem mengalami kendala.

“Kalau (kualitas) sistem aplikasi online menurun, harus cepat beralih menjadi layanan manual untuk sementara waktu. Tapi, tetap melalui proses administrasi menggunakan berita acara. Supaya pengguna jasa tetap terlayani,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Takwim menyebut, rata-rata jumlah kunjungan kapal saat ini masih normal. Mencapai 1.200 kapal per bulan. Meski tak menyebut angka, dia mengatakan jumlah kunjungan kapal meningkat dibanding tahun sebelumnya.

“Peningkatan terjadi karena adanya pemulihan ekonomi setelah pandemi Covid-19,” kata Takwim.

Penantian penggunaan MOS telah lama ditunggu. Bahkan sejak 2006 lalu. Ketua Harian DPC Indonesia National Shipowners Association (INSA) Balikpapan Joko Subiyanto menyebut, pengguna jasa layanan kapal banyak dari stakeholder.

“Ada pelayaran, keagenan (kapal), ada TUKS (terminal untuk kepentingan sendiri). Dengan adanya MOS diharapkan lebih lancar dan lebih baik lagi karena sudah berbasis digital,” ungkapnya.

Meski tampil lebih canggih, bukan berarti bebas kendala. Bahkan itu menjadi pelecut, agar jangan sampai ada pelayanan yang tertunda gara-gara beralih menggunakan aplikasi dan merugikan.

Dikatakan, selama uji coba MOS bergulir, pengguna jasa meninggalkan banyak catatan dampak penyesuaian dari manual menjadi digital. Karena itu, menjadi tanggung jawab Pelindo sebagai badan usaha pelabuhan (BUP) di Balikpapan, untuk melengkapi sistem dan menyempurnakannya. Walaupun saat ini layanan MOS dibatasi ukuran kapal.

“Kalau Balikpapan berhasil sebagai pilot project, daerah lain otomatis akan mengikuti,” ujarnya.

Dia menambahkan, pentingnya evaluasi dalam setiap program yang dijalankan. INSA sebagai mitra Pelindo pun sudah mengusulkan, supaya evaluasi dilakukan tiap kegiatan. Joko menuturkan, pihaknya siap mengawal dan mengingatkan. Karena satu saja terhambat akan merambat semuanya, termasuk masyarakat.

Di hadapan para pengguna jasa yang hadir dalam kegiatan peresmian Go-Live MOS tersebut, General Manager (GM) Pelindo Regional 4 Cabang Balikpapan Iwan Sjarifuddin mengatakan, pelabuhan di Balikpapan menjadi salah satu proyek percontohan untuk wilayah timur Indonesia.