freightsight
Minggu, 4 Desember 2022

INFO INDUSTRI

Industri Nikel di Indonesia Berpengaruh Besar Pada Rantai Pasokan di Dunia

2 November 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

via reuters.com

Harga nikel di bursa perdagangan LME memperlihatkan tren kenaikan tiga bulan terakhir.

Bukan hanya terbesar dari sisi volume, kualitas nikel Indonesia terbaik dunia.

Harga nikel di bursa perdagangan London Metal Exchange (LME) memperlihatkan tren kenaikan tiga bulan terakhir. Badan Energi International (International Energy Agency/IEA) memproyeksikan permintaan nikel di pasar global meningkat seiring penguatan tren energi baru terbarukan (EBT).

Dalam laporannya di "Southeast Asia Energy Outlook 2022", IEA memprediksi permintaan nikel keperluan teknologi energi bersih berkembang pesat 20 kali lipat selama periode 2020 hingga 2040. Khusus kawasan Asia Tenggara, IEA memperkirakan nilai penjualan sumber daya nikel 2020 US$15,2 miliar. Kemudian 2030 nilainya diproyeksikan naik dua kali lipat lebih US$ 36,6 miliar dan meningkat US$ 40,8 miliar pada 2050.

Bagi Indonesia dan Philipina merupakan Negara produsen nikel terbesar di dunia, IEA menilai ini peluang besar bagi negara-negara Asia Tenggara. Apapun kebijakan diterapkan Indonesia, dikatakan IEA, dengan pasokan setengah dari pertumbuhan nikel global memberi pengaruh signifikan pada rantai pasokan nikel dunia.

“Kami yakin masa depan nikel akan semakin cerah. Dan kita punya peluang besar untuk merebut pemenuhan kebutuhan dunia karena Indonesia memiliki lebih dari setengah cadangan dunia, sekitar 150 juta ton,” ujar Direktur Utama PT Citra Lampia Mandiri Helmut Hermawan menanggapi proyeksi IEA, dalam keterangan tertulis, Selasa (1/11/2022).

PT Citra Lampia Mandiri merupakan perusahaan pertambangan nikel beroperasi di Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Ditambahkan Helmut, bukan hanya terbesar dari sisi volume, penyebaran cadangan nikel Indonesia paling besar di dunia. Di Indonesia, 90% cadangan nikel tersebar di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Maluku Utara dan tiga besar penghasil nikel dunia ada di Sulawesi.

Menurut Helmut, daerah Sulawesi berkembang menjadi lokasi pertambangan nikel antara lain Kolaka (Sulawesi Tenggara), Morowali (Sulawesi Tengah) dan Luwu Timur (Sulawesi Selatan). Daerah disebut terakhir, di mana CLM beroperasi adalah kabupaten penghasil nikel terbesar di dunia. Sedangkan di Maluku daerah tambang nikel terdapat di Halmahera (Maluku Utara) dan Pulau Ternate. Cadangan nikel meluas hingga ke Papua lokasi tambangnya di Pulau Gag.

Bukan hanya terbesar dari sisi volume, kualitas nikel Indonesia terbaik dunia. Mengingat nikel kelas satu dibutuhkan bagi pengembangan baterai mobil listrik campuran jenis logam cobalt.

Walaupun permintaan nikel dari segmen baterai belum terlalu besar, tetapi segmen kendaraan listrik (electric vehicle) diperkirakan tumbuh cepat dapat memicu naiknya permintaan nikel kelas satu dari Indonesia. Data IEA mengungkapkan, kendaraan listrik menyumbang 2% lebih dari penjualan mobil global akan menjadi 58% pada 2040.

Sejauh ini konsumen nikel terbesar berasal Tiongkok dan menurut data Statista, permintaan nikel Tiongkok 2020 mencapai 1,31 juta ton. Di samping itu, berdasarkan data International Nickel Study Group (INSG) jumlah permintaan nikel global diperkirakan 2,78 ton pada tahun lalu menjadi 3,02 juta ton tahun ini. INSG mengatakan bahwa peningkatan itu di antaranya ditopang perluasan produksi baterai global demi memasok kendaraan listrik beberapa tahun mendatang.

Di sisi lain, biji nikel berkadar tinggi dibutuhkan untuk industri pengolahan atau smelter di Indonesia. Nikel adalah bahan baku penting pembangkit energi geothermal dan salah satu bahan baku baja tahan karat (stainless steel). Serapan nikel kebutuhan industri stainless steel tercatat tertinggi di Indonesia. Bahkan perusahaan listrik sangat butuh nikel meski dalam kadar rendah. Nikel merupakan bahan baku pembuatan suku cadang mesin, kabel dan lain-lain.

“Pendek kata kebutuhan nikel sangat intensif dalam perkembangan industri hulu sampai hilir. Karena itulah kami sangat optimis terhadap masa depan nikel Indonesia,” tutur Helmut.