freightsight
Jumat, 3 Februari 2023

IMPOR

Impor Peti Kemas Pantai Timur Masih Jauh dari Capaian Tingkat Pra-Pandemi

24 Januari 2023

|

Penulis :

Tim FreightSight

Pelabuhan Amerika

via unsplash

  • Krisis rantai pasokan terjadi sepanjang 2022 pada hampir semua pelabuhan AS menunjukkan penurunan impor peti kemas sebanyak dua digit dari tahun ke tahun.

Pelabuhan Pantai Timur terus meraih kemenangan di atas Pantai Barat. Pengumuman pelabuhan dalam beberapa hari terakhir menyoroti seberapa banyak capaian pengiriman yang diperoleh Pantai Timur selama era pandemi.

Statistik terbaru juga mengungkapkan bahwa penurunan volume bulan-ke-bulan berurutan dari puncak pandemi mungkin melambat, bahkan di beberapa pelabuhan yang paling terpukul di Pantai Barat.

Pelabuhan Los Angeles melaporkan, bahwa mereka menangani 352.046 TEUs impor peti kemas yang dimuat pada bulan Desember 2022. Jumlah tersebut turun 9% dari tahun ke tahun dan turun 6% dari Desember 2019, sebelum COVID. Tetapi dengan catatan positif, naik 15% dari November menjadi total bulanan tertinggi sejak Agustus.

Krisis rantai pasokan terjadi sepanjang 2022 pada hampir semua pelabuhan AS menunjukkan penurunan dua digit dari tahun ke tahun. Namun, seperti halnya Los Angeles, angka impor bulan ke bulan menunjukkan peningkatan setelah penurunan yang lebih tajam pada bulan September-November.

Impor yang dimuat ke Pelabuhan Charleston naik 5% pada bulan Desember dibandingkan November. Impor ke Pelabuhan Virginia naik 2%. Savannah, Georgia turun 0,7%. Sementara Seattle/Tacoma di Washington turun hanya 2%. Impor Charleston Desember naik 28% dibandingkan Desember 2019, sebelum COVID. Savannah naik 26% dan Virginia 21%. Sebaliknya, impor gabungan di Los Angeles dan Long Beach turun 15% pada bulan Desember dibandingkan tiga tahun lalu, Oakland turun 19% dan Seattle/Tacoma 20%.

Menurut John McCown, penerbit The McCown Report, impor gabungan pada Desember 2022 di 10 pelabuhan AS teratas dibandingkan pra-COVID, tumbuh pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 0,4% selama tiga tahun sebelumnya.

Sedangkan CAGR tiga tahun Pantai Barat minus 5,6% dibandingkan periode yang sama. CAGR Pantai Timur/Teluk adalah 6,6%.
“Desember adalah bulan ke-19 berturut-turut di mana persentase perubahan volume tahun-ke-tahun di pelabuhan East/Gulf Coast mengungguli pelabuhan West Coast,” tulis McCown.

Menurut McCown, Pelabuhan teratas di Pantai Timur menangani 54,9% volume masuk bulan lalu, dengan pangsa Pantai Barat turun menjadi 45,1%.
Pada pra-pandemi, pangsa tersebut terbalik, dengan Pantai Barat menangani sekitar 55% - meskipun demikian, volumenya bergeser ke timur sebagai akibat dari perluasan Terusan Panama.

Pantai Timur mulai melampaui pertumbuhan Pantai Barat pada 2017, dengan celah yang melebar pada 2019. Ada pergeseran ke arah lain pada fase pertama lonjakan impor pandemi: pertumbuhan impor Pantai Barat melonjak kembali karena operator lebih menyukai waktu transit yang lebih singkat dari Asia. Momentum Pantai Barat memuncak pada musim semi 2021. Tapi Los Angeles dan Long Beach mengalami kemacetan parah pada akhir 2021 dan awal 2022, mendorong volume ke arah timur lagi. Tren itu semakin dipicu oleh ketidakpastian kontrak kerja pelabuhan Pantai Barat, yang berakhir pada 1 Juli 2022. Hampir tujuh bulan kemudian, kontrak baru belum juga ditandatangani.

“Sejak pertengahan 2021 telah terjadi perpindahan yang lebih nyata dari Pantai Barat karena pengirim mengalihkan rute peti kemas. Awalnya ini untuk meminimalisir efek penundaan kemacetan. Baru-baru ini, ini terkait dengan kekhawatiran akan gangguan dari potensi kerusuhan tenaga kerja," tulis McCown.