freightsight
Minggu, 4 Desember 2022

REGULASI

Doing Business Ditiadakan, World Bank Siapkan Pengganti

18 Februari 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

Bank dunia

World Bank via thejakartapost.com

• Bank Dunia atau World Bank tengah menyusun pendekatan baru dalam menakar iklim investasi dan bisnis setelah menghapus audit Ease Doing Business karena tersandung kasus manipulasi.

• Skandal yang mengguncang IMF dan World Bank pada tahun lalu ini berujung pada pembentukan panel independen dari eksternal yang dipimpin oleh mantan Presiden Bundesbank Jens Weidman untuk memperkuat keamanan institusi.

World Bank tengah mencari masukan untuk proyek baru untuk iklim ekonomi dan bisnis yaitu Business Enabling Environment untuk menggantikan laporan Doing Business yang syarat skandal.

Bank Dunia atau World Bank tengah menyusun pendekatan baru dalam menakar iklim investasi dan bisnis setelah menghapus audit Ease Doing Business karena tersandung kasus manipulasi.

Dilansir Bloomberg pada Jumat (11/2/2022), lembaga pemberi pinjaman internasional ini mulai mencari masukan untuk proyek baru yaitu Business Enabling Environment atau Lingkungan yang Mendukung Bisnis.

Dalam portal resminya, Bank Dunia sedang mempertimbangkan pandangan para ahli dan pegawai pemerintahan di sektor swasta dan masyarakat sipil. Proyek ini akan dikepalai oleh sekelompok orang yang juga menggarap laporan Doing Business.

Sejumlah perubahan yang akan dilakukan antara lain mengevaluasi lingkungan bisnis dari sudut pandang sektor swasta, tidak hanya memandang dari satuan perusahaan. Termasuk layanan publik dalam perekonomian, bukan hanya sekadar beban regulasi. Serta penilaian yang harus berlandaskan implementasi praktis peraturan, bukan hanya aturan tertulis.

“Pengumpulan data dan laporan proses akan diatur dengan standar setinggi-tingginya,” kata World Bank dalam catatan resminya.
Bank Dunia yang berbasis di Washington ini menargetkan penyusunan kajian tersebut akan rampung pada akhir Maret dengan merilis laporan lengkap pertama pada akhir musim gugur 2022.

Sebagai informasi, World Bank resmi menghapus laporan Doing Business pada akhir September lalu. Keputusan tersebut diambil setelah kajian pihak eksternal menuduh Managing Director International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgiva menekan salah satu staf World Bank untuk meningkatkan posisi China pada laporan Doing Business 2018 ketika ia masih menjabat sebagai petinggi nomor 2 di Bank Dunia.

Secara konsisten, Georgiva mengelak tuduhan tersebut sehingga Dewan IMF memutuskan tidak mencabut jabatannya karena bukti yang ditemukan tidak mendemonstrasikan secara gamblang bahwa ia memainkan pelanggaran tersebut.

Skandal yang mengguncang IMF dan World Bank pada tahun lalu ini berujung pada pembentukan panel independen dari eksternal yang dipimpin oleh mantan Presiden Bundesbank Jens Weidman untuk memperkuat keamanan institusi.

Sementara itu, Laporan Doing Business memainkan peranan penting di pasar negara berkembang sebagai alat promosi kepada investor asing. Namun integritas dari pemeringkat ini justru menimbulkan skandal besar dan perdebatan sengit selama beberapa tahun terakhir. Salah satunya ditandai dengan lepas jabatannya Paul Romer sebagai Kepala Ekonom Bank Dunia pada 2018 setelah memperdebatkan perubahan urutan Chili dalam laporan tersebut.

Adapun proposal baru yang tengah dicanangkan Bank Dunia baru-baru ini diharapkan mampu mencegah keriuhan seputar peringkat yang dialami pendahulunya. Pengelompokan indikator untuk menghasilkan skor agregat juga belum ditetapkan.

Seperti disampaikan Justin Sandefur, seorang rekan senior Centre for Global Development dan seorang peserta dalam panel yang mengulas Doing Business tahun lalu yang dikhawatirkan hal itu akan memicu perdebatan anyar lagi.

“Proposal ini bukan super kategori atau komitmen tentang digunakan atau tidaknya indeks atau skor agregat. Sepertinya hal itu masih belum diputuskan,” tutur Sandefur.