freightsight
Minggu, 4 Desember 2022

REGULASI

CIPS Yakini Neraca Komoditas Dapat Tingkatkan Efektivitas Ekspor-Impor RI

1 Juni 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

Ekspor

Pelabuhan Ekspor via mediabumn.com

Neraca komoditas adalah salah satu sistem database nasional yang berisi data informasi, serta gambaran sisi produksi dan sisi konsumsi secara komprehensif dan real time dari beberapa komoditas ekspor dan impor Indonesia.

Associate Researcher Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Krisna Gupta mengatakan implementasi neraca komoditas dapat meningkatkan efektivitas birokrasi perdagangan internasional Indonesia. Pasalnya, sistem ini terintegrasi dengan data dan proses perizinan sehingga diharapkan dapat mengatasi berbagai masalah administrasi ekspor impor.

“Namun jika tidak disertai dengan pemahaman soal kompleksitas rantai pasok, neraca komoditas justru bisa membawa masalah baru,” kata Krisna pada Rabu (1/6/2022).

Ia menyebutkan, sistem perizinan perdagangan Indonesia masih memiliki banyak masalah, antara lain proses yang panjang, kurangnya transparansi, dan kualitas data yang buruk. Adapun penggunaan neraca komoditas merupakan bagian dari implementasi UU Cipta Kerja 2020 yang bertujuan menghilangkan hambatan dalam investasi dan perdagangan.

Neraca komoditas adalah salah satu sistem database nasional yang berisi data informasi, serta gambaran sisi produksi dan sisi konsumsi secara komprehensif dan real time dari beberapa komoditas ekspor dan impor Indonesia.

“Implementasi neraca komoditas akan memangkas satu langkah dari proses perizinan dan mengurangi peluang munculnya korupsi. Sistem ini juga akan memudahkan proses transparansi dan berpotensi mengurangi celah korupsi,” jelas Krisna.

Namun, implementasi neraca komoditas dihadapkan pada banyak tantangan, seperti pengumpulan data konsumsi dan produksi tingkat perusahaan, konsumen, produk, industri, dan nasional, serta belum adanya estimasi dan pemetaan dampak ini pada rantai nilai industri dan jaringan produksi global.

Krisna mengatakan, masih ada ketidaksepakatan antara kementerian yang mengumpulkan data terkait mana yang harus digunakan. Sejauh ini, neraca komoditas akan digunakan untuk melacak lima komoditas, yaitu beras, garam, gula, daging sapi, dan produk perikanan.

Penerapan pada lebih banyak produk di 2023 pun diproyeksi akan meningkatkan level kompleksitas penerapannya.

“Kita ambil contoh baja. Material baja memiliki banyak karakteristik teknis yang beragam dan seringkali didesain khusus untuk produk tertentu sehingga berdampak sangat besar terhadap industri hilir andalan Indonesia seperti elektronika dan otomotif,” imbuhnya.