freightsight
Sabtu, 1 Oktober 2022

EKSPOR

Bagaimana Nasib Indonesia setelah Australia Berhasil Menjadi Primadona Pabrikan Mobil Listrik?

8 Agustus 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

Mobil Listrik

Ilustrasi Pabrik Mobil Listrik via promediateknolo...

Australia Barat menyita perhatian industri otomotif global seiring dengan penambangan lithium yang menjanjikan cadangan cukup tebal.

Sepanjang tahun lalu sejalan dengan peningkatan produksi EV, harga mineral itu pun rupanya juga naik hampir 500% pada tahun lalu.

Belakangan ini, wilayah Australia Barat menyita perhatian industri otomotif global seiring dengan penambangan lithium yang menjanjikan cadangan cukup tebal. Hal itu pun juga melecut berbagai pabrikan otomotif yang ada di dunia mengamankan rantai pasok dengan berbagai kontrak yang ekslusif.

Wilayah penambangan lithium tersebut juga rupanya terletak di gurun berbatu yang bisa dibilang kurang dikenal. Namun, ini tentu saja dengan seiring semakin trennya produksi juga kampanye mobil listrik, tentu saja telah melejitkan perusahaan-perusahaan penambang yang ada di sana.

Dikutip dari Bloomberg, Jumat (5/8/2022), industri lithium Australia kini telah dibanjiri oleh para bankir dan pialang di Diggers & Dealers Mining Forum yang telah berhasil menyambangi kota pedalaman Kalgoorlie. Mereka juga membicarakan kesepakatan investasi yang jumlahnya senilai US$42 miliar yang diperlukan bagi produsen logam litihium.

Di samping itu, pembuat mobil global juga telah mengambil saham produsen tersebut dari bursa yang membatalkan perjanjian pasokan juga menyerahkan uang tunai untuk ekspansi tambang.

"Nafsu makannya tak terpuaskan," kata Dale Henderson, CEO Pilbara Minerals Ltd., dalam sebuah wawancara. "Setiap produsen lithium sangat populer saat ini," tambahnya.

Di pasar global, pertumbuhan EV juga sangat mengesankan pada tahun lalu sehingga ini membutuhkan lebih banyak lagi bahan baku baterai yang utamanya bisa menyerap lithium. China sejauh ini juga sudah berhasil mendominasi rantai pasokan lithium sehingga negara-negara Barat berusaha untuk mengembangkan produksi mereka sendiri.

Sebaliknya, Australia bisa dibilang merupakan sumber alternatif bagi produsen tersebut. Berdasarkan Survei Badan Geologi AS, Australia ini menyimpan sekitar setengah pasokan lithium yang ada di dunia.

CEO Liontown Resources Ltd. Tony Ottaviano mengungkapkan bahwa masih membutuhkan beberapa tahun ke depan untuk bisa menyiapkan seluruh pasokan bagi para konsumen lithium. Padahal, mulanya penambangan lithium yang ada di Australia dilirik sebelah mata para produsen otomotif.

Pada bulan Juli, Ford Motor Co. juga mengumumkan bahwa kesepakatan dengan Liontown untuk bisa menutup sepertiga kebutuhan dari perkiraan produksi penambang selama beberapa tahun mendatang. Kesepakatan itu juga berhasil membuat Ford memberikan fasilitas utang A$300 juta (US$210 juta) kepada Liontown untuk bisa lebih memperluas situs Kathleen Valley.

Transaksi tersebut juga mengikuti apa yang disebut kesepakatan offtake Liontown sebelumnya dengan Tesla Inc. juga pembuat baterai Korea Selatan LG Chem Ltd. Itu juga ternyata terjadi selama seminggu setelah pembuat mobil Eropa Stellantis NV mengambil saham ekuitas yang ada di penambang lithium Australia Vulcan Energy Resources Ltd.

Sepanjang tahun lalu sejalan dengan peningkatan produksi EV, harga mineral itu pun rupanya juga naik hampir 500% pada tahun lalu. Seperti yang diungkapkan BloombergNEF, pasar lithium ini akan ketat dan harga kemungkinan akan tetap tinggi untuk sisa tahun ini.

Di tengah perebutan rantai pasok industri mobil listrik ini, Australia yang memang melesat sebagai mata rantai penting juga meninggalkan posisi Indonesia. Sampai saat kini, Indonesia hanya baru menjaring komitmen investasi dari produsen baterai seperti CATL dan LG Energy Solution, sedangkan yang belum ada pabrikan terutama dari Eropa yang berkomitmen untuk menanamkan modal meskipun ditawarkan cadangan nikel cukup besar.