freightsight
Jumat, 3 Februari 2023

EKSPOR

Capai Pembangunan Berkelanjutan, IKM Gerakkan Rantai Pasok dari Hulu ke Hilir

24 Januari 2023

|

Penulis :

Tim FreightSight

industri alas kaki indonesia

via industry.co.id

  • IKM berfungsi sebagai jembatan antara ekonomi formal maupun informal serta berperan menggerakkan aliran rantai pasok dari hulu ke hilir dalam mendistribusikan kekayaan secara merata dengan cara menyebarkan kegiatan ekonomi.

Pelaku industri kecil menengah (IKM) akan berkontribusi besar terhadap ketercapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

“World Economic Forum juga menyampaikan bahwa salah satu tools dalam SDGs yang sangat berpengaruh untuk menumbuhkan ekonomi yang baik pada negara berkembang maupun negara maju adalah IKM,” ujar Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (Dirjen IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita pada Minggu (22/1/2023).

Reni menjelaskan, IKM berfungsi sebagai jembatan antara ekonomi formal maupun informal serta berperan menggerakkan aliran rantai pasok dari hulu ke hilir dalam menciptakan hubungan antara desa dan kota, serta berperan dalam mendistribusikan kekayaan secara merata dengan cara menyebarkan kegiatan ekonomi.
“IKM juga dapat menjadi penyelamat di berbagai lapisan masyarakat dalam menghadapi gejolak ekonomi pada saat terjadi krisis ekonomi global,” terangnya.

Salah satu sektor industri, lanjut Reni, yang memiliki peranan besar bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah industri alas kaki. “SDGs dapat mendukung transformasi industri alas kaki di Indonesia untuk dapat lebih beretika dengan mengupayakan prioritas dan pertimbangan lebih besar terhadap human side (sisi manusia), enviromental side (sisi lingkungan), serta pola organik yang terbentuk pada masyarakat IKM dalam mencapai tujuan bersama,” paparnya.

Reni mengungkapkan, industri alas kaki di Indonesia merupakan salah satu sektor yang berpotensi dan prospektif dalam segi bisnis baik di pasar lokal maupun global. Berdasarkan data World Footwear Yearbook 2022, pada tahun 2021 Indonesia merupakan konsumen produk alas kaki terbesar keempat di dunia dengan total konsumsi mencapai 806 juta pasang sepatu atau sebesar 3,8% dari total konsumsi produk alas kaki dunia.

“Di tahun 2021, Indonesia juga merupakan eksportir alas kaki terbesar ketiga di dunia setelah China dan Vietnam. Kuantitas ekspor produk alas kaki Indonesia mencapai angka 427 juta pasang, atau 3,3% dari total produk alas kaki yang diekspor di seluruh dunia,” sebutnya. Menurut Reni, data tersebut juga menunjukkan bagaimana pertumbuhan ekonomi yang positif di Indonesia dan mendukung eskalasi beberapa SDGs, seperti di antaranya SDG1 menghapus kemiskinan, SDG2 mengakhiri kelaparan, SDG8 pekerjaan layak dan pertumbuhan, serta SDG10 mengurangi ketimpangan.

“Setiap tujuan pada SDGs saling berkaitan, sehingga poin tujuan dari masing-masing SDG secara tidak langsung mempengaruhi tujuan lainnya terutama pada sisi lingkungan,” imbuhnya.

Reni menyebutkan, Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) di era industri 4.0 ini sebagai salah satu unit kerja Ditjen IKMA melihat adanya pola dari hubungan dan potensi kemitraan setiap stakeholder pada industri alas kaki yang membentuk sebuah ekosistem yang mampu direplikasi dalam dunia digital.
Nantinya ekosistem ini dapat menghubungkan antar stakeholder dalam memenuhi kebutuhan yang lebih luas dan diharapkan dapat memberi kebermanfaatan yang lebih besar.

Contohnya, BPIPI telah meluncurkan Indonesia Footwear Network (IFN) yang menghubungkan stakeholder pelaku industri alas kaki di Indonesia.
“IFN dapat diakses pada ifn.bpipi.id dan tidak hanya dari IKM alas kaki yang mampu berperan, dalam ekosistem digital ini terdapat industri penyedia produk/jasa/layanan dari hulu ke hilir sehingga komunikasi bisa terjalin lebih mudah sekaligus mempermudah aliran supply chain pada industri alas kaki,” terang Kepala BPIPI Kemenperin, Syukur Idayati.

Menurut Ida, IKM alas kaki memiliki peluang besar untuk naik kelas hingga mampu merambah pasar ekspor, karena inovasi dan mampu menjaga kualitas mutu.
“Industri ini prospektif, dengan menjaga kualitas mutu, dan terus berinovasi. Oleh karena itu, kami dampingi untuk yang skala kecil dan menengah agar mampu memenuhi standar pasar,” ungkapnya.