freightsight
Sabtu, 1 Oktober 2022

PENGIRIMAN UDARA

Bali Masih Alami Kendala Pengiriman Untuk Lakukan Ekspor Ikan

8 November 2021

|

Penulis :

Tim FreightSight

Kapal nelayan

The large fisheries harbor © Dashu83 via Freepik

Ekspor ikan yang ingin dilakukan oleh pihak UMKM Bali, sampai saat ini masih mengalami kendala keterbatasan penerbangan internasional. Hal ini pada akhirnya menyebabkan adanya penurunan nilai pengiriman selama kuartal III/2021. Hal ini sebagaimana data yang dimiliki oleh bala karantina ikan.

Berdasarkan catatan yang dimiliki oleh pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan Denpasar, nilai ekspor komoditas perikanan di Bali selama masa kuartal III/2021 telah mengalami penurunan sebesar 4,39 persen jika dibandingan dengan periode yang sama pada tahun lalu (year on year/YoY), yakni menjadi Rp 478,61 miliar.

Untuk lebih rincinya, nilai ekspor dari ikan hidup pada kuartal III/2021 mengalami penurunan sebesar 4,89 persen, atau senilai Rp 36,26 miliar.

"Untuk produksi perikanan di Bali masih cukup, hanya masalah transportasi udara ke luar negeri yang secara langsung tidak ada, eksportir harus mengekspor produk melalui Cengkareng maupun Surabaya, ini menyebabkan ekspor tidak optimal," katanya kepada Bisnis, Rabu (3/11/2021).

Ia juga menuturkan bahwa tingginya biaya distribusi sama sekali tidak menjadi masalah bagi importir. Selama biaya distribusi masih masuk dengan biaya perhitungan eksportir, maka produk akan tetap dikirim. Tujuan utama dari hal ini adalah karena mereka ingin tetap menjaga hubungan baik dengan para buyer yang ada di luar negeri.

Hanya saja saat ini kondisinya, para eksportir sedang kesulitan masalah kargo, sehingga menyebabkan mereka saling berebut kargo agar bisa saling mengirimkan barang yang mereka miliki ke luar negeri.

“Kalaupun biaya trasnportasi mahal, jika relatif masih masuk dan mencukupi pasti dikirim, tapi sekarang kan saling berebut karena kargo terbatas," sebutnya.

Ia juga menyampaikan bahwa adanya pembukaan perbatasan di Bali, akan meningkatkan peluang yang cukup besar untuk para pelaku usaha yang ingin melakukan kegiatan ekspor, impor.

"Kita belum bisa memprediksi berapa persen, ada beberapa negara yang sudah dibuka, belum bisa menghitung ke sana tetapi yang jelas akan terjadi peningkatan karena cost lebih murah tidak harus ke Jakarta," sebutnya.