freightsight
Minggu, 4 Desember 2022

PENGIRIMAN DARAT

Anak Usaha Pelindo Membeberkan Terkait Rencana Bisnis Pergudangan

24 November 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

via envato

PSL bukan hanya fokus membangun akses logistik lewat Jalan Tol Cibitung-Cilincing.

PSL tidak berbicara besaran penjualan tapi bagaimana mendapat margin keuntungan dengan harga kompetitif dan memuaskan pelanggan.

Sub holding PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Pelindo Solusi Logistik (PSL) bukan hanya fokus membangun akses logistik lewat Jalan Tol Cibitung-Cilincing tetapi melakukan bisnis pergudangan dan pengembangan hinterland. Direktur Utama PT Pelindo Solusi Logistik Joko Noerhudha menjelaskan pasca merger dan serah terima operasi Januari 2022, ada ratusan depo dan gudang dulu dikelola PT Pelindo I-IV dan anak-anak usahanya.

Di bisnis logistik, PSL ditargetkan menawarkan efisiensi dan visibilitas kepada pengguna jasa melalui proses standarisasi dan digitalisasi layanan.

Beliau menjelaskan pemilik barang bisa memanfaatkan keunggulan lokasi dan layanan gudang-gudang Pelindo demi kegiatan konsolidasi barang ekspor-import atau sebagai buffer inventory. Pengguna jasa tak perlu membangun gudang sendiri.

"Jadi para pengguna jasa bisa mendapatkan layanan yang lebih efisien, visibilitas proses, tracking, ditambah dengan lokasi gudang yang berada di wilayah atau dekat dengan pelabuhan," ujarnya, Selasa (22/11/2022).

Pelindo Solusi Logistik masuk ke bisnis trucking. PSL memberikan layanan logistik sepenuhnya terintegrasi.

Namun, tekan Joko, Pelindo Solusi Logistik tidak akan masuk ke bisnis antaran ke konsumen (point to point) atau disebut Business to Consumer (B2C), tapi Business to Business (B2B), antar-jemput barang dari gudang ke pelabuhan dan sebaliknya.

"Kita sekarang mulai terbiasa bicara tentang efisiensi. Bagaimana pun PSL tetap harus punya margin, meskipun kecil," jelasnya.

PSL tidak lagi berbicara besaran penjualan tapi bagaimana tetap mendapat margin keuntungan dengan harga kompetitif dan memuaskan pelanggan. Sebetulnya, kata Joko, di tengah persaingan ketat di bisnis logistik, PSL bisa memberikan layanan dalam volume besar dengan margin kompetitif, sepanjang prosesnya efisien.

“Sudah ada perkembangan. Market share kita naik terus,” katanya.

Untuk terus bersaing, menurut Joko, kata kuncinya pembangunan kapasitas. Joko menceritakan, logistik sesungguhnya lengan bisnis Pelindo relatif muda dan harus terjun ke bisnis sifatnya sudah red ocean. Sebagai Sub holding Pelindo, pihaknya mengasah kemampuan karena persaingan dan teknologi terus berubah cepat, terutama di tengah era digitalisasi.

Bukan hanya itu, Pelindo Solusi Logistik menjadikan PSL relevan bagi pengguna. Menurutnya, banyak perusahaan tutup bukan karena ketidakmampuan berinovasi, tapi keberadaan sudah tidak relevan dengan pasar.

PSL juga fokus pada pengembangan hinterland langsung berada di belakang pelabuhan. Salah satunya di Kijing, Mempawah, Kalimantan Barat. Kawasan industri di sana menempel dengan pelabuhan, sehingga transportasinya efisien, baik bahan baku atau produk akhir. Untuk di Benoa, Bali ada Bali Maritime Tourisme Hub (BMTH).

Di sana PSL fokus pengembangan Pusat Logistik Berikat (PLB) bagi produk bernilai tinggi diangkut melalui moda transportasi udara, sebagai alternatif mengantisipasi kawasan logistik Bandara I Gusti Ngurah Rai padat.

PSL mengoperasikan jaringan logistik dan hinterland development di lebih dari 40 wilayah kerja tersebar di Indonesia dan mengelola 6 Anak Perusahaan, yaitu PT Multi Terminal Indonesia, PT Akses Pelabuhan Indonesia, PT Prima Indonesia Logistik, PT Nusantara Terminal Services, PT Menara Maritim Indonesia dan PT Prima Pengembangan Kawasan yang memberikan layanan end-to-end dengan memperluas konektivitas dan menciptakan kemitraan strategis.

Sub holding Pelindo Solusi Logistik terbentuk sejak merger Pelindo (Persero) 1 Oktober 2021. Bisnis utama Sub holding adalah logistik dan pengembangan hinterland atau industri di sekitar pelabuhan. Selain akses jalan tol, Pelindo Solusi Logistik melakukan kegiatan transportasi multimoda untuk menyiapkan beberapa akses sehingga memperlancar arus barang menuju dan keluar dari pelabuhan.

Salah satunya jalur kereta api dari Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei di Simalungun, Sumatera Utara, ke Terminal Multi Purpose Kuala Tanjung di Selat Malaka berjarak 50 km. Pelindo mengembangkan Kuala Tanjung sebagai hub logistik dan rantai pasok.