freightsight
Rabu, 28 September 2022

PELABUHAN

Telah Resmi Ditetapkan Terminal BBM Tanjung Uban Jadi Pusat Logistik Kepri

2 November 2021

|

Penulis :

Tim FreightSight

Meson terminal BBM

Pipelines and cables in a plant © Daniel Kirsch v...

Telah resmi ditetapkan bahwa terminal bahan bakar minyak (BBM) tanjung uban, bintan, Kepulauan Riau kini menjadi pusat logistik berikat. Dalam hal ini, PT Peteka Karya Tirta akan bertindak sebagai pengelola kawasan tersebut.

Kini, bahkan surat izin penyelenggaraan logistik berikat, sekaligus izin pengusaha pusat logistik berikat terminal bahan bakar minyak tanjung uban kepada PT Peteka karya tirta, telah diterbitkan oleh pihak bea cukai khusus Kepulauan Riau. Dokumen izin yang diterbitkan tersebut telah diberikan pada kuasa PLT. Direktur PT Peteka Karya Tirta, Musrini, pada Kamis (21/20).

Menurut pandangan Akhmad Rofiq selaku kepala kanwil bea cukai Kepulauan Riau, Riau memang merupakan sebuah kawasan yang sangat strategis untuk jalur perdagangan dunia, karena keberadaan selat malaka. Hanya saja, jika dibandingkan dengan Singapura, Kepulauan Riau memang masih terbilang kalah.

“Untuk itu sangat baik sekali dan penting jika Indonesia, khususnya kepulauan Riau untuk dapat melakukan copy and update strategi Singapura dalam menangkap peluang bisnis yang ada, agar tidak terjadi disparity prosperity yang tajam antara singapura dan Indonesia khususnya Kepulauan Riau,” kata Akhmad dalam keterangan resmi yang ia tulis, Senin (25/10/2021).

Dikatakan pula oleh Akhmad, dengan adanya penetapan terminal BBM tanjung uban sebagai pengelolaan dan aset yang mana diantaranya mencakup pelabuhan dan tangki yang kini sudah terpisah dari PT Pertamina (Persero) pada PT Peteka Karya Tirta, sebagai pusat logistik berikat industri besar. maka besar harapannya ke depan akan ada pemanfaatan yang dilakukan Suplier Held Stock (SHS) yang selama ini hal itu hanya dilakukan Singapura.

Pada keterangan yang sama Akhmad juga merinci tentang implementasi SHS di pusat logistik berikat terminal BBM tanjung uban. Dengan melakukan implementasi Suplier Held Stock (SHS), maka diperkirakan akan terjadi penghematan biaya untuk 1,5 juta kl BBM untuk Pertamina Holding.

Tidak hanya itu, ada pula potensi additional value untuk masalah penyewaan tangki yang potensinya cukup besar, yakni USD 3,3juta setiap tahun.