freightsight
Rabu, 28 September 2022

INFO INDUSTRI

Ini Faktor Pendorong Turunnya Biaya Logistik Tahun 2020, Senilai 21,3% PDB

2 November 2021

|

Penulis :

Tim FreightSight

Cabang logistik

Logistic port © Barrett Ward via Unsplash

Diketahui bahwa biaya logistik nasional, pada tahun 2020 telah berhasil mengalami penurunan. Hal ini sebagaimana data yang disampaikan oleh Asosiasi Logistik dan Forwarder (ALFI). Dari perhitungan yang disampaikan oleh ALFI, diketahui bahwa biaya logistik dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2020, mengalami penurunan sebanyak 21,3%.

Yuki Nugrahawan Hanafi, selaku Ketua Umim DPP ALFI, menyampaikan bahwa pihaknya meyakini kondisi biaya logistik Indonesia, dari tahun ke tahun terus mengalami perkembangan kondisi yang baik. Hal tersebut karena kisaran dari biaya logistik nasional adalah sebesar 23-24% dari Produk Domestik Bruto.

“Kita tahu biaya logistik itu bergantung pada volume. Kita melihat adanya kenaikan pada dua hal yakni di konsumsi dan investasi di mana menyebar di wilayah Jawa dan Timur,” ungkap dia, Minggu (31/10).

Selain hal di atas, ia juga meyakini bahwa hal lain yang jadi penyebab terdorongnya penurunan biaya logistik Indonesia adalah, disebabkan oleh infrastruktur sebesar 60% dan faktor perizinan 40%.

Dalam beberapa tahun kebelakang, pihak pemerintah memang melakukan berbagai macam upaya untuk bisa membangun ragam infrastruktur. Salah satu tujuan dari berbagai pembangunan tersebut tentu saja untuk menekan biaya logistik.

Salah satu pembangunan yang sudah dilakukan adalah, pembangunan tol Trans - Jawa. Selain itu, saat ini pemerintah juga terus melakukan pengerjaan pembangunan Tol Trans - Sumatera.

Tidak hanya itu, Indonesia timur ternyata juga tidak luput dari sorotan pemerintah. Mereka terus membangun banyak pelabuhan, serta meningkatkan berbagai fasilitasnya agar nantinya insfrastruktur tersebut bisa digunakan dengan maksimal.

“Kita melihat pembangunan infrastruktur dilakukan secara masif oleh pemerintah, memang belum selesai tapi ini tentu dapat memberikan para pengguna jasa untuk memilih menggunakan akses laut, darat maupun udara, dan ini memberikan dampak yang efisien,” tambah dia.

Selain dari sisi pembangunan infrastruktur, sisi pemberian izin pemerintah juga menjadi faktor lain yang mendorong terjadinya penurunan biaya logistik. Salah satunya adalah dibuktikan dengan adanya relaksasi dari Omnibus Law, yang mana hal tersebut ternyata mendorong terjadinya kemudahan.

Yuki juga mengatakan, meskipun di tengah kondisi sedang terhantam pandemi covid-19, namun Indonesia terus melakukan berbagai macam perbaikan. Salah satunya adalah izin yang tetap diberikan oleh pemerintah, untuk kegiatan sektor logistik

“Banyak negara lain itu on and off dimana pelabuhannya di buka tutup kalau kasus Covid-19 tinggi, tapi kita tidak pernah. Sehingga ini memberikan keuntungan pada space kontainer yang ada di kita,” jelasnya.

Berdasarkan berbagai kriteria di atas, dan juga maraknya investasi yang dilakukan selama masa pandemi Covid-19, ALFI membuat perhitungannya. Dari hitungan yang telah dilakukan maka ALFI akhirnya berhasil mendapatkan hasil, biaya logistik nasional akan turun sebesar 21,3 persen dari PDB.

“Apakah penurunan ini sudah cukup? Belum. Kita harus mengejar penurunan hingga 17% dari PDB kita sampai 2024. Harapannya perizinan juga akan semakin mudah, investasi makin besar, Covid-19 melandai maka akan memberikan efisiensi lagi pada biaya logistik,” tambah dia.

Karena itu, ia menyampaikan harapannya yang besar agar Idonesia bisa terus mengalami penurunan biaya Logistik, meski masih harus berjuang melawan pandemi. Karena kenaikan biaya logistik di Indonesia, masih sangat mungkin terjadi, hal ini bahkan juga dialami oleh beberapa negara maju, yang salah satunya adalah Singapura.

"Ini artinya dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk bisa menurunkan biaya logistik,” tutup dia.