freightsight
Minggu, 27 November 2022

PELABUHAN

Pelindo Bantah Kerusakan Alat Bongkar Muat di Pelabuhan Belawan

22 November 2022

|

Penulis :

Tim FreightSight

via envato

SPTP sebagai pengelola TPK Belawan membantah terjadi kerusakan alat bongkar muat jenis Container Crane.

Secara operasional ideal, 1 unit CC di dermaga membutuhkan dukungan 2 unit RTG.

PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) sebagai salah satu pengelola TPK Belawan membantah telah terjadi kerusakan alat bongkar muat jenis Container Crane (CC) yang merupakan salah satu alat untuk bongkar muat peti kemas di sisi dermaga.

Corporate Secretary SPTP, Widyaswendra, mengatakan bahwa kegiatan di dalam area terminal peti kemas berlangsung normal, tidak ada keterlambatan dalam kegiatan operasional. Bahkan menurutnya tidak ada peti kemas gagal muat ke atas kapal dan tidak ada peti kemas yang tertinggal.

Dari 10 unit CC yang ada di TPK Belawan seluruhnya juga masih normal dan bisa digunakan demi kegiatan bongkar muat peti kemas dari dermaga ke atas kapal atau juga sebaliknya.

"Kegiatan berlangsung normal, dengan 10 CC tersebut jika dalam kondisi maksimal dapat digunakan untuk melayani kegiatan bongkar muat 5 kapal peti kemas secara bersamaan," kata Widyaswendra, Senin (21/11/2022).

Selain 10 unit CC, TPK Belawan ini pun didukung oleh 22 unit alat jenis Rubber Tyred Gantry (RTG) yang memang merupakan alat untuk bongkar muat peti kemas yang ada di area lapangan penumpukan. Menurut Widyaswendra, jumlah tersebut juga masih sangat cukup demi bisa menunjang kegiatan operasional terminal peti kemas di TPK Belawan.

Lebih lanjut, beliau menuturkan secara operasional yang ideal, 1 unit CC di dermaga membutuhkan dukungan 2 unit RTG di lapangan penumpukan. Beliau juga menegaskan dengan perbandingan jumlah alat jenis CC dan RTG di TPK Belawan masih ideal. Dari 22 unit RTG ada 1 unit yang hingga saat ini sedang dilakukan pemeliharaan rutin.

Demikian halnya dengan proses penerimaan (receiving) juga pengiriman (delivery) peti kemas yang ada di TPK Belawan juga tidak ada kendala. Masa penumpukan receiving ini pun sudah dibuka sejak 5 hari sebelum jadwal keberangkatan kapal. Pada area lapangan penumpukan juga tentu sudah terdapat alat pendukung seperti Reach Stacker (RS) yang memang merupakan alat mengangkat dan menumpuk peti kemas.

Widyaswendra menyebutkan bahwa jika saat ini perusahaan memiliki saluran suara pelanggan bisa diakses para pengguna jasa kapan saja dan di mana saja.

Pihaknya menyebut para pelanggan bisa langsung menyampaikan kepada SPTP jika ada kendala operasional di lapangan. Pelanggan juga bisa menghubungi masing-masing Customer Relations Officer (CRO) yang selama ini menjalin komunikasi baik dengan para pengguna jasa.

Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, menyebut bahwa keluhan terkait keandalan alat bongkar muat peti kemas di pelabuhan adalah hal wajar. Hal itu tak lepas salah satunya dari usia alat yang berumur. Namun demikian, alat di sejumlah pelabuhan di Indonesia pun tentu saja masih tergolong layak untuk bisa mendukung operasional khususnya di terminal peti kemas.

"Kesiapan alat perlu diperhatikan, sehingga perlu adanya rencana pemeliharaan yang terjadwal dengan baik. Terlebih jika berkaitan dengan ketersediaan suku cadang," ujarnya.

Lebih lanjut, Siswanto di sini mengapresiasi bahwa langkah Pelindo yang melakukan distribusi peralatan bongkar muat peti kemas pasca merger. Menurutnya hal itu tentu bisa membantu pemenuhan peralatan di pelabuhan atau terminal yang belum didukung alat memadai.

Beliau berpesan supaya alat yang didistribusikan ke terminal hendaknya merupakan alat yang andal juga siap digunakan untuk bisa mendukung kegiatan operasional di lapangan.